Home » Utama » LSM Panjiku Soroti Kinerja Konsulat Tawau

LSM Panjiku Soroti Kinerja Konsulat Tawau

NUNUKAN – Kabupaten Nunukan merupakan jalur perlintasan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia maupun calon TKI yang ingin bekerja di Malaysia dari berbagai daerah di Indonesia.
Perlintasan orang mulai dari yang lengkap dokumen keimigrasian legal hingga ilegal, termasuk yang dideportasi pemerintah Malaysia.
Khusus TKI yang dideportasi Malaysia, biasanya TKI melakukan pelanggaran dokumen keimigrasian, seperti tidak memiliki paspor, masa berlaku paspor habis, paspor wisata digunakan bekerja dan juga kasus kriminal.
Hal ini diungkapkan Ketua LSM Pancasila Jiwaku (Panjiku) Mansur Rincing, Minggu (4/6) usai menemukan TKI yang dideportasi beberapa hari lalu.
“Dari pembicaraan dengan TKI yang bermasalah itu, karena paspor mereka sudah habis masa berlaku, lalu ditangkap aparat Malaysia. Mereka mengaku mengalami perlakuan kurang pantas. Misalnya, pemukulan, diskriminasi antar tahanan dengan tahanan Filipina dari minum dan makanan,” ungkap Mansur.
Selain itu, kata dia, barang milik TKI yang awalnya dititipkan ke pegawai rumah tahanan sementara, hilang begitu saja.
“Ketika ada TKI kita ditangkap aparat Malaysia, mereka di masukkan ke rumah tahanan sementara. TKI tersebut diperiksa melalui dua pintu. Pada pintu pertama, apabila TKI kita memiliki perhiasan, uang atau HP atau barang lainnya, itu akan dititipkan ke petugas tanpa bukti tertulis. Kalau TKI memiliki uang 200 ringgit, biasanya dibagi dua dengan petugas rumah tahanan,” ujar dia.
Kemudian, kata dia, di pintu kedua dilakukan pemeriksaan ulang. Apabila ditemukan barang yang dilarang masuk seperti HP dan uang, maka barang tersebut disita petugas rumah tahanan.
“TKI kadang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Seperti di tendang dan di pukul. Seharusnya ada pegawai Konsulat RI mendampingi, termasuk mencatat dan mengamankan barang TKI. Apabila TKI kita bebas, maka mereka mendapatkan kembali barang yang dititipkannya itu,” cetusnya.
Dia menyayangkan barang yang dititipkan ke petugas rumah tahanan, ternyata hilang begitu saja saat akan diambil kembali oleh pemiliknya.
“Contoh, emas, HP dan uang yang sering kali diambil aparat Malaysia. Ketika deportasi ke Nunukan, TKI ini sudah tidak memiliki apa-apa,” tandas Mansur.
Sehingga kata dia, permasalahan tersebut harus menjadi atensi dari Konsulat selaku perwakilan pemerintah Indonesia di negara tertentu. Seharusnya, Kementrian Luar Negeri menegur Konsulat yang tidak memberikan jaminan atau pendampingan TKI yang bermasalah hukum, khususnya soal keimigrasian saat di rumah tahanan sementara.
“Dinas terkait mesti berkoordinasi dengan dinas di Kabupaten, supaya langkah penanganan bisa dipercepat dan tepat,” ucapnya.



Lazada Indonesia