Home » Nasional » Massa Aksi Bela Ulama 96 Teken Petisi Tolak Kriminalisasi

Massa Aksi Bela Ulama 96 Teken Petisi Tolak Kriminalisasi

Massa Aksi Bela Ulama 96 Teken Petisi Tolak Kriminalisasi

JAKARTA- Ketua Presidium Alumni Aksi 212 Ansufri Idrus Sambo pihaknya menargetkan mengumpulkan tanda tangan di kain dengan total panjang hingga 10 kilometer untuk menolak upaya kriminalisasi ulama.
Dia mengatakan, kemarin setidaknya sudah ada 100 ribu tanda tangan yang berhasil dikumpulkan dari seluruh massa peserta aksi-aksi damai yang dilakukan di Jakarta.
“Targetnya, tanda tangan ini bisa sampai 10 kilometer. Kalau sudah sampai, kami pasang di sekeliling Monas. Biar masuk Muri (Museum Rekor Indonesia) sebagai tanda tangan terbanyak, dukungan untuk para ulama,” ujarnya di Jakarta, Jumat (9/6).
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, setidaknya ada dua kain panjang yang dibentangkan panitia di pekarangan sisi barat Masjid Istiqlal untuk mengumpulkan tanda tangan para peserta aksi. “Total panjang kainnya ada 50 meter,” kata Sekretaris Presidium Alumni Aksi 212 Asma Dewi.
Menurutnya, pengumpulan tanda tangan untuk petisi kepada Komnas HAM ini sudah rutin dilakukan oleh Presidium Alumni Aksi 212 sejak beberapa pekan lalu. Saat itu, massa alumni 212 menyampaikan tuntutan mereka kepada Komnas HAM untuk pertama kali pada awal Mei 2017 silam.
Tidak hanya di Jakarta, namun menurut Asma, pengumpulan tanda tangan untuk petisi kepada Komnas HAM ini juga dilakukan di beberapa daerah lainnya di Indonesia yang ada di pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi.
“Yang seperti ini kan lebih baik. Kalau kirim-kirim karangan bunga kan buang-buang duit, setelahnya malah jadi sampah,” ujar salah seorang peserta aksi yang ikut mengumpulkan tanda tangannya.
Sementara itu, di tengah-tengah peserta aksi juga terlihat panitia yang mengumpulkan koin untuk Komnas HAM. Sejauh ini, panitia mengklaim telah berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp9 juta.
Nantinya, uang yang terkumpul dalam aksi penggalangan koin itu akan diberikan kepada Komnas HAM untuk membantu operasional Komnas HAM dalam menyelidiki fakta-fakta terkait kriminalisasi ulama.
Sementara itu, penasihat hukum tersangka dugaan percakapan pornografi Rizieq Shihab, Sugito Atmo Pawiro mengatakan kliennya mendapat bantuan dari warga Arab Saudi selama menjadi ‘pelarian’ di negeri minyak itu. Rizieq yang merupakan pentolan Front Pembela Islam (FPI) itu hingga kini belum kembali ke Indonesia meski bersatus tersangka.
Sugito mengatakan, sebagian warga Arab Saudi menilai Rizieq merupakan korban politik di Indonesia. Korban politik itu, jelas Sugito karena Rizieq dianggap berperan turut mengalahkan Basuki Tjahja Purnama alias Ahok di Pilkada DKI Jakarta kemarin.
“Media Arab Saudi menulis Habib Rizieq dizalimi karena berperan mengalahkan Ahok. Makanya banyak yang bersimpati kepada dia,” kata Sugito dikutip CNN Indonesia.com di Jakarta, Jumat (9/6).
Sugito mengatakan kemudahan yang didapatkan Rizieq berupa akomodasi hotel dan transportasi. Sehingga, kata dia, suami Syarifah Fadlun Yahya itu tidak mengalami kesulitan. “Ada fasilitas hotel dan mobil, “ kata Sugito.
Rizieq belakangan ini sering mendapat sorotan, terutama sejak ditetapkan sebagai tersangka. Meski diminta untuk kooperatif, Rizieq belum menunjukkan itikad baik untuk menuntaskan kasus yang membelitnya.
Sugito mengatakan Rizieq akan pulang ke Indonesia setelah kondisi politik membaik. Ia menyebut, Rizieq akan terus melakukan perlawanan hukum dari Arab Saudi selama polisi mengkriminalisakan dirinya.
Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Mochmad Iriawan sebelumnya menegaskan tidak ada kriminalisasi terhadap Rizieq. Dia berkata apa yang disangkakan kepada Rizieq tentu berdasar pada bukti dan fakta hukun yang kuat. “Kriminalisasi dari mana, saksi ada kok. Peristiwa (percakapan) itu juga ada,” kata Iriawan.
Senin (29/5) polisi menetapkan Rizieq sebagai tersangka. Ia dinilai melanggar Pasal 4 ayat (1) junto Pasal 29 dan atau Pasal 6 junto Pasal 32 dan atau Pasal 9 junto Pasal 34 Undang Undang RI Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. 



Lazada Indonesia