Home » Headline » Perundingan soal Ambalat Harus Hati-Hati

Perundingan soal Ambalat Harus Hati-Hati

Perundingan soal Ambalat Harus Hati-Hati

TANJUNG SELOR - Kaltara yang terletak di perbatasan Indonesia - Malaysia terus menjadi perhatian pemerintah pusat. Terlebih masalah batas maritim yang terletak di Sebatik, Kabupaten Nunukan. Hal tersebut membuat Utusan Khusus Presiden RI Joko Widodo datang ke Kaltara sejak (11/6).
Utusan Khusus Penetapan Batas Maritim Indonesia untuk Malaysia, Dr Eddy Pratomo mengatakan bahwa perundingan soal Ambalat yang sampai saat ini masih status quo bakal berlangsung lama. Sebab belum ada kesepakatan antara pihak Indonesia maupun Malaysia. “Target (penyelesaian) agak susah disebutkan. Karena masalah batas laut ini butuh perundingan lama. Harus gunakan banyak teori dan strategi karena masalah kedaulatan. Makanya kita harus hati-hati sekali,” jelasnya.
Diungkapkan Eddy, persoalan batas teritorial yang berada di Kaltara memang cukup pelik. Khususnya yang terletak di laut sulawesi sebelah timur Pulau Sebatik. Oleh sebab itu, pihaknya terus melakukan pembahasan menyelesaikan batas laut tersebut. “Kami sudah berunding mengenai laut teritorial antara Tawau (Malaysia) dengan Sebatik (Indonesia). Setelah itu, kita tarik garis lurus ke bagian selatan menjadi perundingan batas laut zona ekonomi ekslusif dan selanjutnya kita akan berunding soal Ambalat yang banyak mengandung sumber dan gasnya itu,” bebernya.
Menurutnya, penting bagi pihaknya untuk menyaksikan langsung kondisi pulau terluar dan titik batas yang berada di perbatasan. Sesuai jadwal, hari ini (13/6) tim tersebut akan turun bersama dengan TNI-AL Sei Pancang untuk memantau lokasi titik terluar itu. “Ini memang harus teliti, karena harus mencapai kesepakatan bersama antara kedua belah pihak. Gak bisa keputusan itu sendiri-sendiri,” ungkapnya.
Eddy bersama tujuh orang lainnya termasuk didalamnya Prof. Sobar Sutisna yang merupakan tim pakar Utusan Khusus Presiden pada Senin (12/6) melakukan pertemuan dengan Gubernur Kaltara. Pertemuan yang berlangsung sejak pagi hingga siang kemarin itu, berjalan lancar dengan pemaparan tujuan dari tim utusan khusus kemudian pemberian informasi dari Gubernur Kaltara, Irianto Lambrie bersama dengan pejabat pratama lainnya.
Lebih jauh dijelaskan, progress perundingan soal batas laut alias batas maritim Indonesia sudah bicara soal batas dan garis batas. Dibeberkannya, baik pihak Indonesia maupun Malaysia sudah mengajukan titik klaim masing-masing. “Tapi klaim itu masih belum di refleksikan dalam bentuk garis. Semoga nanti tahun depan garisnya sudah kelihatan,” sebutnya.
Menurut Eddy, pihaknya fokus terhadap laut teritorial untuk diselesaikan karena berkaitan dengan masalah kedaulatan. Terlebih persoalan hukum yang sering terjadi selama ini banyak terjadi di wilayah perbatasan laut. “Upaya kita bagaimana kedaulatan penuh, agar penegakan hukum kita di laut teritorial tercapai sehingga tak ada pelanggaran laut, penangkapan ikan secara ilegal karena sudah pada tahu batasnya,” imbuhnya. 
Sementara itu, sampai saat ini belum ada batas laut yang jelas di titik yang ia sebutkan sehingga persoalan di lapangan sering ada yang nyasar dari kedua belah pihak. Sedangkan soal perundingan, sejauh ini sudah dilakukan enam kali perundingan dan bakal melakukan perundingan ketujuh dengan pihak Malaysia Juli mendatang.
“Kendala sejauh ini kemauan kedua belah pihak yang tidak sama. Malaysia cukup keras dan masih ada prinsip berbeda sehingga butuh waktu lama sehingga kita harus sabar. Batas laut kalau sudah disepekati tidak bisa dirubah lagi sehingga harus hati hati,” tegasnya lagi. 



Lazada Indonesia