Home » Utama » Kudapan Tanah Parahyangan Mulai Menjamur

Kudapan Tanah Parahyangan Mulai Menjamur

Tanjung Selor – Para pelaku usaha dari Tanah Parahyangan, Jawa Barat mulai menunjukkan eksistensinya di Ibu Kota Bumi Kalimantan Utara. Jawa Barat lebih terkenal sebagai salah satu pusat penghasil tekstil dan beberapa produk garmen, saat ini juga mulai merambah dunia kuliner, khususnya kudapan atau biasa disebut camilan (makanan ringan).
Berdasarkan pantauan Koran Kaltara di beberapa ruas jalan ibukota, jenis produk yang ditawarkan memang makanan khas dari tanah sunda. Seperti contoh Bakso Tahu Goreng atau disingkat Batagor, Aci (Tepung Sagu) digoreng atau disingkat Cireng, Aci dicolok (ditusuk) atau disingkat Cilok dan juga Roti Bakar.
Meski skala usahanya kecil, namun apabila diperhatikan lebih seksama, kuantitas usaha ini bisa dikatakan menjamur. Dimana usaha tersebut dapat dilihat pada mayoritas ruas jalan di Tanjung Selor, khususnya ketika sore dan malam hari.
Salah satu penjual Batagor yang Koran Kaltara temui, Rizal mengungkapkan, di Tanjung Selor sendiri dalam satu tahun terakhir memang banyak berdatangan pemuda dari tanah pasundan yang mengadu nasib dengan berjualan makanan khas Jawa Barat. Bahkan saat ini sedang dibahas mengenai komunitas pelaku usaha kecil yang berdasarkan unsur kedaerahan tersebut.
“Rata-rata memang yang masih muda dan juga yang baru menikah. Kita juga sering komunikasi tentang bagaimana penjualan, dan apa saja yang sepertinya laku kalau dijual,” terang Rizal.
Lebih jauh ia mengaku, meski usahanya memang terlihat kecil, namun pendapatannya satu bulan dirasa lebih dari cukup. Dari harga satu porsi batagor Rp13.000 ini, dirinya mendapat keuntungan setidaknya Rp2.000.000 hingga Rp3.000.000 setiap bulannya. Jumlah itu pun sudah diluar biaya makan dan tempat tinggal. “Sehari saya bisa menjual sampai 100 porsi, memang ramai. Yang penting rasa dan kualitas dijaga,” lanjutnya.
Terpisah, Penjual Roti Bakar yang Koran Kaltara temui bernama Budi menuturkan memang Tanjung Selor saat ini ramai dikenalkan oleh temannya yang lebih dahulu merantau dengan berjualan makanan serupa. Pria asal Cikapundung Kabupaten Bandung ini mengatakan hal tersebut menarik minat teman-teman lainnya untuk turut bersama merantau.
Sisi ekonomis dari usahanya, dirinya mengaku saat ini harus berani bersaing dan berinovasi agar konsumen tidak pindah ke lain tempat. “Meski setiap jalan itu ada yang jual, tapi orang carinya yang enak. Kalau harga sih rata-rata sama. Ada yang Rp12.000 sampai Rp18.000 tergantung rasanya,” tutupnya. 



Lazada Indonesia