Home » Patroli » Sudarsono Divonis 1 Tahun Penjara

Sudarsono Divonis 1 Tahun Penjara

TARAKAN – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Kaltim di Samarinda menjatuhkan vonis terhadap Sudarsono Gunawan, tersangka terakhir kasus dugaan korupsi pengadaan 5 unit papan visual videotron. Vonis itu lebih ringan dari vonis 3 terpidana lainnya, dalam kasus yang sama.
Kepala Kejaksaan Negeri Tarakan Rachmad Vidianto melalui Kasi Pidana Pidsus Frederick Richard Silaban saat ditemui Rabu (10/8) kemarin menuturkan Sudarsono divonis 1 tahun penjara.
“Vonisnya pidana 1 tahun penjara, denda Rp 50 juta subsidair 2 bulan kurungan. Vonisnya juga lebih rendah dari tuntutan kami 3 tahun penjara dengan denda Rp50 juta subsider 2 bulan kurungan dan uang pengganti Rp150 juta. Tapi, uang pengganti ini sudah dikembalikan terdakwa saat kasusnya masih dalam tahap penyidikan,” ujar Frederick.
Untuk uang pengembalian dari Sudarsono ini sudah diterima JPU dan dititipkan di rekening khusus tanpa bunga, namun belum diserahkan ke kas daerah, karena JPU langsung menyatakan banding atas putusan Majelis Hakim ini.
“Kita melakukan upaya hukum banding, sudah kita nyatakan kepada Hakim. Tetapi, memori banding belum kita berikan. Uang pengganti masih kita titipkan, nanti kalau perkaranya sudah incracht baru kita serahkan ke kas daerah. Tidak bisa kita serahkan langsung, kan nanti kalau ternyata putus bebas darimana kita ambil uangnya, kalau kita serahkan sebelum perkara selesai, nanti kita pula kena gugat,” katanya.
Sejak ditetapkan tersangka pada Mei 2016 lalu, Sudarsono memang tidak ditahan. Dalam amar putusannya, Majelis Hakim juga tidak mengeluarkan perintah terhadap Sudarsono untuk ditahan.
“Tidak dibunyikan dalam amar putusannya untuk dilakukan penahanan,” tegasnya.
Untuk diketahui, penetapan tersangka Sudarsoni ini merupakan pengembangan dari pemeriksaan 3 tersangka sebelumnya yaitu mantan Kepala DPPKA Ahmad Maulana sebagai Kuasa Pengguna Anggaran, Mustofa sebagai Pejabat Pelaksana Tekhnis Kegiatan (PPTK) dan pihak ketiga Direktur PT Zentha Yunanto Ali, sementara peran Sudarsono sebagai makelar dari PT Zentha ke Maulana dan Mustofa.
Bahkan, dalam pengurusan ke Dinas PPKA semua Sudarsono yang menyelesaikan dan pegawai di DPPKA mengira Sudarsono adalah Direktrur PT Zentha sebagai pemenang tender lelang hingga Sudarsono disebut-sebut sebagai Direktur Utama PT Zentha.
Dari empat orang yang terlibat dalam korupsi pengadaan papan visual videotron ini, Sudarsono dalam proses banding, Maulana dan Yunanto Ali sudah menjalankan masa hukumannya, sisa Mustofa yang masih belum dieksekusi Jaksa. Fredderick beralasan, masih menunggu kondisi kesehatan Mustofa pulih.
“Kaki Mustofa luka karena sakit diabetes dan perawat setiap hari mengganti perbannya. Kita khawatirnya pihak Lapas yang menolak karena bisa mengakibatkan ketidaknyamanan penghuni lainnya. Tetapi, kita akan koordinasi lagi dengan Mustofa apakah sudah siap menjalankan masa hukumannya atau bagaimana. Tapi memang Mustofa ini kooperatif sejak awal,” ungkap Fredderick.
Sebelumnya, dalam kasus korupsi pengadaan 5 unit papan visual videotron yang diadakan melalui APBD Tarakan, nilai kontrak Rp4. 197.509. 405 di tahun anggaran 2013, sudah menjadi terpidana mantan Kepala DPPKA, Ahmad Maulana divonis 1 tahun 8 bulan denda Rp 50 juta karena dianggap sebagai otak dari korupsi ini.
Kemudian, Mustofa, yang juga merupakan PNS di Bagian Asset DPPKA dan pihak ketiga, Yunanto Ali divonis satu tahun penjara dan denda masing-masing Rp 50 juta subsider 2 bulan kurungan. Ditambah uang pengganti untuk Mustofa Rp 55 juta, Yunanto dan Maulana diwajibkan membayar uang pengganti Rp 625.000.000.
Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merilis kerugian negara dari pengadaan videotron ini sebanyak Rp1,4 miliar. Sementara itu, dari pemeriksaan dan fakta persidangan total uang yang diterima Sudarsono dari PT Zentha Rp625 juta. Kemudian fee proyek ini digeser ke Ahmad Maulana sekitar Rp375 juta dan ke Mustofa sebesar Rp150 juta. Sementara sisa uangnya diambil Sudarsono.



Lazada Indonesia