Home » Advertorial » Kuliah Umum Irianto Lambrie di Depan Calon Master dan Doktor Ekonomi Unmul Samarinda-3

Kuliah Umum Irianto Lambrie di Depan Calon Master dan Doktor Ekonomi Unmul Samarinda-3

Kuliah Umum Irianto Lambrie di Depan Calon Master dan Doktor Ekonomi Unmul Samarinda-3
TANTANGAN : Gubernur Kaltara Dr H Irianto Lambrie kala memberikan pertanyaan untuk dijawab peserta kuliah umum.

GUBERNUR Kaltara Dr H Irianto Lambrie menuturkan, kondisi geostrategis Kalimantan yang berada di posisi sentral tersebut, selama ini belum banyak mendapatkan perhatian Pemerintah dengan membangun konektivitas yang optimal. Padahal, Kalimantan dengan kondisinya yang prospektif ini, memiliki cadangan Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, bebas gempa, juga merupakan paru-paru dunia.
Ditambah, luas wilayah Pulau Kalimantan mencapai 4 kali luas Pulau Jawa, dan berada di antara Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I dan II. ALKI adalah alur laut yang ditetapkan sebagai alur untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional.
ALKI ditetapkan untuk menghubungkan dua perairan bebas, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Semua kapal dan pesawat udara asing yang mau melintas ke utara atau ke selatan harus melalui ALKI. ALKI I melintasi Laut China Selatan, Selat Karimata, Laut Jawa, Selat Sunda. Sementara, ALKI II melintasi Laut Sulawesi, Selat Makassar, Laut Flores, Selat Lombok.
“Jadi, sangat wajar muncul persepsi untuk memindahkan Pusat Pemerintahan Indonesia ke Kalimantan,” kata Irianto di depan para calon magister dan doktor saat mengisi kuliah umum di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul Samarinda.
Sejurus dengan itu, perkembangan makro ekonomi daerah pun meningkat. Menurut Irianto, pada 2016 pertumbuhan ekonomi Kaltara menyentuh angka 4,27 persen. Sementara, pada triwulan I 2017 mencapai 6,17 persen.
“Pertumbuhan ekonomi Kaltara, jika diukur berdasarkan PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto) ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku) mencapai Rp 18,68 triliun dan ADHK (Atas Dasar Harga Konstan) tahun 2010 mencapai Rp 13,29 triliun,” kata Irianto.
Dari catatan pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang melesat itu, muncul sebuah keunikan yang jarang terjadi di Indonesia. “Sedianya, berdasarkan teori ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang meningkat, menjadi dasar peningkatan kesejahteraan penduduk. Namun, yang terjadi di Kaltara berbeda,” ucapnya.
Keunikan perkembangan ekonomi makro daerah itu, menyulut Gubernur mengeluarkan tantangan bagi para pakar ekonomi di Indonesia. “Ini melawan teori ekonomi, saya kira sangat unik kejadian di Kaltara ini. Kondisi ini dapat menjadi bahan riset atau karya tulis ilmiah bagi para calon master atau doktor ekonomi. Sebab, faktor penyebab keunikan tersebut, masih belum tergambarkan dengan baik,” tegasnya.(bersambung)



Lazada Indonesia