Home » Utama » Polisi Pemilik Senpi Tes Psikologis Berkala

Polisi Pemilik Senpi Tes Psikologis Berkala

TARAKAN- Maraknya penyalahgunaan senjata api (senpi), menjadi atensi khusus Kapolri untuk mengawasi jajarannya agar bisa memfungsikan senpi sesuai dengan tugas dan prosedur yang ada.
Wakapolres Tarakan Kompol Rizki Fara Sandhy menuturkan, di Tarakan seluruh personelnya ada standar operasional prosedur tersendiri. Selain permohonan, ada penyelidikan khusus dari Pengamanan Internal Polri (Paminal) dan harus sudah mengikuti tes psikologi berkala.
“Kita perketat memang untuk permohonan senpi. Polisi yang sudah mendapatkan senpi juga apabila dikemudian hari bermasalah akan ditarik oleh Provos meskipun masa berlakunya masih panjang. harus segera diamankan sebelum ada hal yang tidak kita inginkan,” ujarnya, saat ditemui Senin (13/11).
Dalam surat izin senpi, ungkapnya didalamnya selain ada merk, kaliber, amunisi dan masa berlaku. Pada saat cuti, kata Kompol Rizki senpi yang digunakan tidak boleh dibawa dan harus ditarik, termasuk identitasnya.
“Kecuali tugas keluar kota yang tetap dibawa senpinya, nanti akan dilengkapi surat perintah. Ada juga mekanisme lain yang harus dilewati juga,” imbuhnya.
Di lapangan, dalam penggunaan senpi harus diawali dengan tembakan peringatan terlebih dahulu. Biasanya, tembakan peringatan akan dikeluarkan 3 kali, namun saat ini ditentang internasional.
“Amunisi polisi ada berapa, pelaku kejahatan ada berapa. Bayangkan kita diberikan senjata dengan beberapa amunisi setelah tiga kali tembakan peringatan, baru dilumpuhkan kan kita buang-buang peluru jadi sia-sia,” bebernya.
Secara internasional kata Wakapolres dalam pelatihan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang pernah diikuinya merefresh kemampuan kepolisian. Dengan menyimpan peluru dan gunakan dengan mempertimbangkan berapa orang pelaku kejahatan.
“Kalau secara internasional tembakan peringatan itu malah tidak wajib dilakukan, menembak melumpuhkan atau mematikan itu disahkan. Tapi, tetap tergantung kasus yang terjadi, misalnya membahayakan jiwa petugas atau masyarakat sekitar bisa dilumpuhkan, terutama penyanderaan itu sah untuk ditembak ditempat,” tegas perwira berpangkat melati satu ini.
Ia pun mencontohkan perampokan sebuah bank yang terjadi di Sumatera Utara yang menggunakan senjata api beberapa waktu lalu. Jumlah perampok lebih dari satu sementara polisi hanya satu orang.
“Sebenarnya sudah tidak wajib, makanya personel polisi baik dari bintara sampai perwira dibekali diskresi kepolisian. Atau mengambil keputusan untuk yang lebih luas pada saat itu, meskipun tidak sesuai prosedur dan melawan hukum. Misalnya menerobos lampu merah, tapi kalau sifatnya darurat diperbolehkan,” ungkapnya. 



Lazada Indonesia