Home » Headline » Kaltara Digempur Kosmetik Ilegal

Kaltara Digempur Kosmetik Ilegal

Kaltara Digempur Kosmetik Ilegal
Produk makanan asal Malaysia beredar luas di pusat perbelanjaan di Kaltara.

TANJUNG SELOR – Menjadi provinsi perbatasan membuat Kaltara harus menerima berbagai konsekuensi, salah satunya dalam sektor industri. Pemenuhan kebutuhan masyarakat ditawarkan dua pilihan, yakni produk dalam negeri dan produk yang datang dari luar negeri. Konsumen pun dihadapkan dengan fenomena beragam, dimana produk luar beredar pesat di pasar. Tak terkecuali untuk komoditas rias kecantikan atau kosmetik.
Produk kosmetik luar yang ditawarkan kepada konsumen terbilang tak menguras kantong. Namun yang perlu diketahui, barang dari luar ini sebagian besar tidak melalui jalur resmi. Otomatis barang dagang pun tidak terverifikasi oleh lembaga pengawas, seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Samarinda yang menaungi Kaltim dan Kaltara.
BPOM mencatat, pada 2016 lalu terdapat 1.059 produk obat dan bahan makanan yang menyalahi aturan dan mengandung bahan-bahan berbahaya. Totalnya ada 84.525 buah yang jadi temuan. Sebagaimana diakui oleh Kepala BPOM Samarinda Fanani Mahmud, bahwa dari berbagai temuan tersebut, salah satu yang menjadi perhatian pihaknya adalah kosmetik ilegal.
Ia membeberkan, dari berbagai temuan BPOM sejauh ini, paling banyak kasus yang ditangani adalah kosmetik ilegal. Menurutnya, daerah Kaltim dan Kaltara cukup mudah dimasuki oleh produk kosmetik dari luar. “Sebagian besar memang kosmetik dari luar yang mengandung pemutih mercurry,” ungkapnya.
Adapun untuk jumlah kasus yang ditangani oleh BPOM, Fanani mengungkapkan setiap tahunya terdapat rata-rata sembilan kasus. Sebagaimana tahun 2016 lalu, terdapat delapan kasusu yang dilakukan Pro Justitia. Termasuk tahun 2017 ini, sudah beberapa kasus yang ditangni hingga ke meja pengadilan. “Iya termasuk tahun ini, rata-rata penanganan kasus obat-obat berbahaya termasuk kosmetik ada sembilan yang sudah diajukan ke pengadilan. Ini kasus yang terjadi di dua provinsi yang masih gabung yakni Kaltim dan Kaltara,” bebernya.
Lebih jauh dijelaskannya, penemuan obat, kosmetik, dan pangan berbahaya cenderung berada di depot jamu dan toko kosmetik tradisional. Hal ini bisa disebabkan alur suplai toko di tempat tersebut cenderung tidak memerhatikan legalitas supplier. Atau hanya menyetok produk yang banyak dicari masyarakat.
Sementara itu, masih banyaknya temuan, BPOM mengimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam pengawasan obat dan makanan dengan menjadi konsumen cerdas. Agar terhindar dari obat dan makanan ilegal, masyarakat diharapkan selalu mengecek. Mulai dari kemasan, cek izin edar, dan cek tanggal kedaluwarsa.
“Jadi masyarakat juga bisa mengecek legalitas produk dengan website BPOM atau via aplikasi smartphone. Kepada pelaku usaha, BPOM menginstruksikan tidak memproduksi atau mengedarkan obat, kosmetik, maupun makanan yang tidak memenuhi syarat,” bebernya saat berada di Tanjung Selor, Senin (13/11). 



Lazada Indonesia