Home » Utama » Kesulitan Warga, Ancaman Harga Diri Bangsa

Kesulitan Warga, Ancaman Harga Diri Bangsa

MALINAU - Jika pesawat MAF tak juga beroperasi, maka ribuan warga dari 36 desa di 5 kecamatan sudah dipastikan akan mengalami berbagai kesulitan. Sejumlah desa yang tak punya akses lain, selain akses udara dan hanya dilayani oleh MAF dipastikan akan kembali terisolasi, akan terkubur oleh penderitaan dan kesulitan dalam berbagai hal. Layanan kesehatan akan terputus. Begitu juga pendidikan. Tanpa kecuali layanan pemerintahan dan berbagai layanan lainnya terkait dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat perbatasan dipastikan akan kembali ke zaman puluhan tahun lalu dimana keadaan serba sulit.
“Lalu kondisi itu tanggung jawab siapa? Jangan remehkan kondisi tersebut. Memang ada Susi Air. Tapi apakah Susi Air mampu melayani berbagai kebutuhan masyarakat seperti yang selama ini diberikan MAF? Kan tidak, karena Susi Air maskapai niaga,” ungkap Bupati Malinau Yansen TP, Senin (27/11).
Selama ini, papar Yansen TP, MAF melayani penerbangan dari ibu kota/kabupaten ke kecamatan hingga ke desa-desa. Pelayanan tersebut sudah dilakukan sejak 60 tahun lalu. Selama itu, MAF bukan hanya memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di pedalaman-perbatasan, tetapi turut membangun peradaban.
“Coba bayangkan, jika itu kemudian terhenti? Bagaimana menderitanya masyarakat. Sekarang saya bertanya, bagaimana jika Anda berada pada posisi kami sebagai masyarakat perbatasan yang membutuhkan tenaga MAF?” ungkapnya.
Dia menegaskan, membiarkan kondisi ini berlanjut, maka sama saja dengan ‘mematikan’ masyarakat secara perlahan-lahan.
Menurut dia, aturan memang harus ditegakan sesuai sikap Menteri Perhubungan Budi Karya Sumedi yang membekukan izin MAF atas dasar aturan penerbangan.
“Kalau bicara aturan saya juga tegas, tegakan aturan. Tapi jangan juga apriori pada kebutuhan masyarakat dan kondisi yang akan muncul ketika aturan itu dilaksanakan. Sekarang dihentikan. Muncul kondisi seperti sekarang. Apa pemerintah siapa mengatasi situasi yang dihadapi masyarakat? Layanan BPJS sekarang macet karena pelayanan tidak bisa berjalan. Sementara pemerintah sudah membuat MoU dengan MAF dalam pelayanan itu. Pencairan Dana Desa untuk pembangunan terhenti karena pemerintah desa tak punya akses lagi ke bank. Saya hormati aturan. Tapi bagaimana solusi untuk mengatasi persoalan yang kompleks ini? Di tempat kain, di kota boleh. Tapi di sini, cermati dulu! Bukan hanya Malinau tapi juga di tempat lain yang kondisinya sama,” tegas Yansen TP.
Berhentinya layanan MAF dan kerasnya pihak Kementerian Perhubungan dalam bersikap terhadap maskapai tersebut membuat masyarakat pedalaman-perbatasan panik. Sementara Pemerintah Daerah tak bisa berbuat lebih banyak.
“Pilu rasa hati saya. Masyarakat teriak meminta tolong saya. Lalu saya bisa apa? Kalau saja bisa, mau saja rasanya saya merogoh saku untuk membeli pesawat. Tapi ini kan nggak bisa. Saya harus meminta dan butuh waktu berapa lama?” tegas Yansen.
Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah meminta kebijakan dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumedi, agar memahami kondisi masyarakat saat ini dan memberikan solusi. Supaya keresahan dan kepanikan akibat beban yang harus dipikul tidak muncul di tengah-tengah masyarakat. Apalagi saat ini, ketika mereka membutuhkan kehadiran maskapai seperti MAF untuk kebutuhan menjelang Natal dan tahun baru.
“Maaf, bukan menyentuh soal hati-hari besar. Tidak! Pada saat hari raya tertentu kita sudah pasti menyediakan bantuan kendaraan untuk mudik. Nah, kenapa nggak buat mereka,” ungkapnya.
Sudah 20 hari MAF tak beroperasi. Pasokan berbagai kebutuhan macet. Dalam kondosi seperti ini, Yansen TP tak menampik adanya kemungkinan warga akan kembali ke masa lalu. Bahkan, faktanya sudah terjadi. Masyarakat mulai kembali menggantungkan harapan terhadap negara sebelah Malaysia yang aksesnya lebih mudah dan dekat.
“Jangan dikira di sebelah (Malaysia) tidak ada yang tertawa. Sekarang mereka sudah berhitung berapa banyak kebutuhan yang harus disediakan untuk memenuhi belanja warga kita,” ungkap Yansen TP
Dia menandaskan, apabila terus berlanjut tanpa ada perhatian dari negara, maka tidak mustahil masyarakat tak akan lagi percaya pada pemerintah dan negara.
“Yang mereka hadapi adalah soal perut. Soal kehidupan. Jangan lagi ada bahasa garuda di dadaku Malaysia di perutku. Malulah kita sebagai bangsa. Janganlah karena bangsa kita ini pejuang, lalu masyarakat harus dibiarkan terus jadi pejuang. Pejuang menahan lapar dan penderitaan. Hentikan itu. Kawan-kawan di kementerian cermatilah. Sederhana saja, jangan diputus dulu sebelum ada solusi atau jawaban,” tegas Yansen TP. 



Lazada Indonesia