Home » Kesehatan » Minyak Kelapa Dapat Cegah Penyakit Jantung

Minyak Kelapa Dapat Cegah Penyakit Jantung

Minyak Kelapa Dapat  Cegah Penyakit Jantung
MINYAK KELAPA : Kelapa bisa jadi mengandung lemak jenuh yang kerap dihindari, tapi penelitian kesehatan terbaru mengungkapkan manfaatnya dalam mencegah penyakit jantung.

JAKARTA - Penyakit jantung selalu dikaitkan dengan aneka jenis minyak untuk mengolah makanan termasuk minyak kelapa. Sebuah studi menemukan bahwa minyak kelapa mengandung 92 persen lemak jenuh. Lemak jenuh terbukti menaikkan kadar kolesterol jahat alias low densisty lipoprotein (LDL), sehingga risiko penyakit jantung tentu semakin tinggi.
Akan tetapi, ada yang mengklaim bahwa minyak kelapa justru mencegah penyakit jantung. Bagaimana bisa? Michael Mosley, dokter sekaligus presenter televisi berkata, minyak kelapa memang telah dikenal lama sebagai solusi atas gangguan pencernaan, bau mulut sampai masalah kulit.
“Tapi mungkin klaim yang paling mengejutkan adalah konsumsi benda ini bisa mengurangi risiko penyakit jantung dengan mengurangi kadar kolesterol,” katanya dikutip dari Daily Mail, baru-baru ini.
Oleh karenanya, ia memutuskan untuk melakukan eksperimen bersama sejumlah peneliti dari University of Cambridge untuk melihat sebenarnya apa yang dilakukan minyak kelapa pada kadar kolesterol tubuh. Hipotesisnya, minyak kelapa akan meningkatkan kadar kolesterol LDL dan tak punya efek apapun pada kolesterol baik alias high density lipoprotein (HDL).
Rupanya, hasil berkata lain. Minyak kelapa tidak meningkatkan kadar kolesterol LDL, tapi justru meningkatkan HDL.
Eksperimen tersebut melibatkan sukarelawan sebanyak 100 orang yang berusia di atas 50 tahun. Tim peneliti pun melakukan pemeriksaan terhadap kadar kolesterol LDL dan HDL, tinggi badan, lingkar perut, tekanan darah, berat badan dan presentase lemak tubuh.
Kemudian, mereka dibagi dalam tiga kelompok. Selama empat minggu, setiap hari mereka diminta mengonsumsi minyak kelapa sebanyak 50 gram atau sebanyak dua sendok makan. Kelompok kedua diberi minyak zaitun yang diketahui mengandung lemak tak jenuh dan bisa menurunkan kadar LDL. Kelompok ketiga diberi 50 gram butter atau margarin.
Hasilnya, kelompok yang mengonsumsi margarin mengalami kenaikan kolesterol LDL sebanyak 10 persen. Namun, baik kelompok minyak zaitun dan kelompok minyak kelapa tampak tidak menunjukkan tanda kenaikan kolesterol LDL, padahal, minyak kelapa mengandung lemak jenuh lebih banyak daripada minyak zaitun.
Sebaliknya, minyak zaitun dan margarin menaikkan kadar kolesterol HDL sebanyak 5 persen, minyak kelapa justru menaikkan kadar kolesterol HDL sebanyak 15 persen. Artinya, minyak kelapa punya efek jauh lebih positif daripada minyak zaitun.
Selain itu, berat badan dan lemak tubuh partisipan tidak berubah, karena kemungkinan kandungan lemak pada minyak kelapa cukup membuat kenyang sehingga mereka cenderung makan dalam porsi kecil.
“Hasilnya tidak seperti yang kami kira, dan berbeda dari studi sebelumnya,” tambah Kay-Tee khaw, profesor gerontologist di Cambridge School of Clinical Medicine, yang turut melihat hasil tes.
Melihat efek yang dibawa minyak kelapa ini, Prof Khaw menilai ada kemungkinan studi sebelumnya tidak secara spesifik menyebutkan jenis minyak kelapa yang mereka gunakan, atau bisa jadi karena minyak kelapa mengnadung lemak jenuh yang juga sangat spesifik yang diproses berbeda oleh tubuh dibanding lemak jenuh lainnya.
Namun, Khaw menambahkan studi yang dilakukan ini belum memberi jawaban yang menyeluruh. Menurutnya, belum diketahui bagaimana jika seseorang mengonsumsi minyak kelapa sepanjang tahun, dan belum ada studi jangka panjang akan dampak minyak kelapa terhadap penyakit jantung, stroke dan lainnya.
“Sederhananya, apa yang diperoleh kali ini menunjukkan bahwa lemak jenuh tak sepenuhnya berefek buruk, kita perlu melihat komposisi yang dikandungnya, bagaimana ditumbuhkembangkan, dan konteks saat mengonsumsinya,” tambah dia.
Hasil mengejutkan ini tentu membuka mata banyak orang termasuk Mosley. Ia mengakui bahwa sebelumnya dia mencoba meminimalisir penggunaan minyak kelapa karena takut akan kandungan lemak jenuh yang tinggi.
“Saya tidak akan menenggaknya berliter-liter, tapi saya juga tidak akan khawatir saat menggunakannya untuk memasak,” ujarnya. 



Lazada Indonesia