Home » Utama » Naik, Harga Beras di Pasar Rp15 Ribu per Kg

Naik, Harga Beras di Pasar Rp15 Ribu per Kg

TARAKAN- Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, terjadi dua kali kenaikan harga beras di Tarakan. Rata-rata kenaikan mencapai Rp 2 ribu perkilogram dan saat ini harga beras sudah mencapai Rp 15 ribu perkilogram, padahal sebelumnya dikisaran Rp 13 ribu perkilogram. Tingginya harga beras sangat dikeluhkan warga, bahkan tidak sedikit yang beralih menggunakan beras Bulog.
Salah satu warga yang membeli beras Bulog adalah, Maryam warga RT 26 Kelurahan Karang Anyar yang terpaksa membeli beras dari Bulog karena harganya lebih murah, agar uang belanja bisa dialihkan untuk membeli bahan pokok lainnya.
“Baru kali ini beli beras Bulog, harganya cuma Rp 9 ribu perkilogram. Soal rasa belum tahu karena baru kali ini beli, biasanya beli satu karung yang beratnya 25 kilogram dengan harga sekitar Rp 300 ribu. Tetapi karena ada kenaikan coba saja beras Bulog daripada tidak makan,” terangnya, Jumat (12/01).
Hal senada juga diungkapkan, Nursia warga RT 10 Kelurahan Sebengkok, dirinya mengaku membeli beras dengan jumlah yang berkurang. Jika biasanya dia membali yang sekarung ukuran 25 kilogram kali ini dirinya membeli yang satu karung ukuran 5 kilogram dengan harga sekitar Rp 80 ribu.
“Kenapa harga beras terus naik ini, terpaksa belinya yang ukuran kecil. Kalau beli yang 25 kilogram nanti untuk belanja lauk-pauk pakai apa. Gaji gak ada kenaikan, tetapi harga-harga bahan pokok malah semakin naik. Apakah pemerintah tidak melihat kesulitan warganya, coba turun tangan apa penyebabnya, dan lakukan upaya untuk menormalkan kembali harga bahan pokok,” ujarnya.
Kenaikan harga beras diakui pedagang di pasar Gusher Tarakan, sejak pertengahan Desember hingga saat ini sudah terjadi dua kali kenaikan harga. Kenaikan pertama Rp 500 perkilogram, dan kenaikan kedua mencapai Rp 1.500 perkilogram.
“Jadi harga beras yang sebelumnya Rp 12 ribu menjadi Rp 13 ribu perkilogram, dan saat ini yang paling mahal perkilogramnya Rp 15 ribu, itu beras yang baling baik. Kenaikan sudah kali terjadi sejak Desember lalu. Kalau per karung kenaikan pertama Rp 5 ribu saja, tetapi kenaikan kedua mendapai Rp 15 ribu perkarung ukuran 25 kilogram,”ungkap salah satu pedagang, Fadli.
Lebih lanjut dikatakan, Fadli bagi pembeli yang mampu dia akan tetap membeli beras seperti biasa tetapi bagi warga dengan ekonomi menengah kebawah akan mengeluh dan banyak yang beralih ke beras dari Bulog yang harganya jauh lebih murah. Yaitu hanya Rp 9 ribu perkilogram.
“Pelanggan terima gak terima, mau tidak mau tetap beli. Kalau soal kemungkinan apakah akan naik lagi atau tidak, itu kita belum tahu. Kasihan itu warung-warung makan, karena mereka juga terpaksa naikan harga jualannya untuk menutup operasional. Bahkan sejak beberapa hari terakhir beras Bulog banyak dicari pembeli,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah Kota Tarakan, Tajuddiin Tuwo justru memberikan keterangan yang bertolak belakang dengan kondisi pasar. Menurutnya harga besar masih normal karena belum diatas Herga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp 13.500 perkilogram.
“Masih normal, harga beras kita awasi kok, kalau harga beras premium belum ada yang jual diatas HET yang kita tetapkan sebesar 13.500, beras premium dipasaran masih diharga Rp 13 ribu perkilogram, berarti masih aman. Kalau harga beras medium dikisaran Rp 9.950 ribu perkilogram sedangkan HETnya Rp 10 ribu perkilogramnya,” paparnya.
Selama ini, beras yang beredar di Tarakan dan Kaltara berasal dari pulau Jawa dan Sulawesi, ditambah biaya transportasi dan bongkar muat dipelabuhan harganya bisa lebih tinggi. Meskipun demikian, harga akan tetap dikontrol.
“Kalau beras Bulog yang premium hanya dijual seharga Rp 11 ribu perkilogram, sedangkan kelas medium harganya hanya Rp 9 ribu perkilogram. Kita sebar beras Bulog inii salah satu cara kami mengantisipasi lonakan harga, dan Bulog juga stanby begitu ada gejjolak harga kiita lakkukan operasi pasar,” tegas Tajuddin.
Stok beras dii gudang Bulog yang ada di Jalan Kusuma Bangsa sektar 1.500 ton dan masih cukup untuk stok 3-4 bulan kedepan, “Mudah-mudahan tidak terjadi gejolak harga, supaya ekonomi tetap stabil,” pungkasnya. 



Lazada Indonesia