Home » Utama » Kualitas Air dan Udara di Kaltara Masih Aman

Kualitas Air dan Udara di Kaltara Masih Aman

Kualitas Air dan Udara di Kaltara Masih Aman
Tampak alat pengukur kualitas udara alias ACMS yang terpasang di DLH Kaltara menunjukan kualitas udara dalam keadaan aman.

TANJUNG SELOR - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Edy Suharto mengatakan, mulai 2018 ini, pihaknya akan mengukur Indeks Kinerja Lingkungan Hidup (IKLH). Terdapat tiga hal yang diukur yakni kualitas udara, kualitas air dan tutupan lahan terbuka.
Ditemui Koran Kaltara di kantornya, Jumat (12/01), Edy menegaskan, tahun sebelumnya melalui bidang pencemaran udara dan air sidang mengukur dua komponen tersebut. Meski demikian, hanya di ukur beberapa sampel seperti untuk udara di Bulungan dan untuk air Sungai Kayan dan Sungai Sesayap.
“Kalau udara, kita ada indeks kualitas udara real time yang bisa dilihat ditempel di monitor. Memang baru Bulungan yang bisa, karena tak semua kabupaten/kota memiliki alat itu. Namanya air community monitoring sistem (ACMS),” sebut Edy.
Sejauh ini, ia mengungkapkan kualitas udara di Kaltara, khususnya Bulungan merupakan kategori baik. Meski pernah naik kategori sedang, karena tingkat debu naik, namun rata-rata masih dalam standar aman dan sehat.
“Kalau diukur itu ada nilainya dimana untuk nilai baik itu mulai dari angka 0 sampai 50 (hijau). Kemudian sedang 51 sampai 100, tidak sehat 101 sampai 199, sangat tidak sehat 200 sampai 299, berbahaya 300 keatas. Itu angkanya update terus dimonitor kami (Kantor DLH Kaltara),” urainya.
Ia menjelaskan, penentuan angka pada alat ACMS tersebut menyangkut lima unsur yakni Corbonmonoksida, nitrogen dioksida, Sulfur dioksida, ozon dan partikulat meter.
Adapun untuk air, sebagaimana dijelaskan Edy yang didampingi oleh Kasi Perencanaan dan Kajian Dampak Lingkungan, Yafet, bahwa Tahun 2017 lalu untuk Sungai Kayan dan Sesayap juga masih aman. “Jadi tahun 2017 baru dua sungai itu. untuk Kayan masih aman dimana PH-nya atau tingkat keasaman normal. Kalau PH antata 6 sampai 9 itu bagus, dibawah itu jelek diatas itu jelek. Indikator lain adalah TSS atau endapan. Kalau keruh endapannya banyak itu tidak baik. Jadi TSS nya harus rendah,” beber Edy.
Lebih jauh, Yafet menambahkan, untuk tahun 2018 terkait program IKLH dengan mengukur kualitas udara, kualitas air dan tutupan lahan. IKLH berhubungan dengan daya dukung dan daya tampung suatu lingkungan di sebuah daerah. “Jadi misalnya kalau ada tiga indikator, indeks kualitas air dan udara baik tapi luas tutupan lahan terbuka rendah, maka IKLH nya rendah. Jadi tiga-tiganya harus baik,” tegasnya.  



Lazada Indonesia