Home » Utama » Biaya Pembangunan Mahal, DAK Fisik Perlu Disesuaikan

Biaya Pembangunan Mahal, DAK Fisik Perlu Disesuaikan

Biaya Pembangunan Mahal,   DAK Fisik Perlu Disesuaikan
SALAH satu sekolah di wilayah pedalaman perbatasan.

MALINAU - Penetapan standar harga pembangunan melalui program Dana Alokasi Khusus (DAK), khususnya bidang pendidikan tampaknya harus diverifikasi pusat. Sebab, masih terjadi kesenjangan antara nilai kegiatan dengan kebutuhan dan kondisi di lapangan.
Daerah-daerah pedalaman seperti Malinau, harus berhadapan dengan situasi yang sulit. Kondisi seperti ini sering terjadi. Misal, tahun 2017, Dinas Pendidikan mendapatkan alokasi DAK untuk pembangunan gedung SMP di Malinau Selatan Hilir di Desa Setarap 2 lokal. Anggaran yang dialokasikan Rp456 juta lebih.
“Gedung RKB berdiri. Tapi masih ada kekurangan. Seperti pekerjaan-pekerjaan finishing termasuk instalasi listrik. Maka perlu adan sekitar Rp400 jutaan lagi,” terang Kasi Tugas Perbantuan sekaligus Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) DAK Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Jhon LS, Rabu (7/2).
Tahun 2018, kata Jhon, terdapat beberapa kegiatan pembangunan Ruang Kegiatan Belajar (RKB). Antara lain, SD 05 Malinau Kota, SD 03 Sungai Boh, SD 03 Malinau Selatan dan SD 05 Malinau Selatan Hilir. Namun, kondisi anggaran yang tersedia tidak sesuai dengan kebutuhan anggaran di lapangan.
“Harga bangunan penetapan DAK Rp2,5 juta. Sedangkan kebutuhan ril dilapangan, di daerah-daerah pedalaman mencapai Rp4 sampai Rp5 juta. Kan jauh sekali bedanya. Tapi ketentuan DAK memang begitu,” ungkapnya.
Solusinya, lanjut dia, pihak sekolah penerima DAK harus cerdas dan tepat dalam menyusun perencanaan.
“Secara swakelola, karena aturannya dilakukan secara swakelola, disusun sebaik mungkin agar dengan anggaran yang ada, volume bangunan terpenuhi. Sebab kalau masih menyisakan pekerjaan apalagi terlalu banyak maka akan membebani daerah. Sementara saat ini kondisi keuangan daerah sedang terbatas,” ungkapnya.
Sementara, menurut dia, sekolah-sekolah di wilayah ibu kota, anggaran tersebut tidak terlalu bermasalah. Sebab akses sekolah itu lebih mudah. Berbeda dengan sekolah-sekolah di pedalaman dan perbatasan. Untuk, biaya pengangkutan material bangunan saja bisa lebih mahal dibandingkan dengan harga material bangunan. Misalnya semen, satu sak di Kecamatan Sungai Tubu bisa mencapai Rp200 ribu lebih. Apalagi di wilayah yang pengangkutannya harus menggunakan pesawat. 



Lazada Indonesia