Home » Utama » Pedagang di Lapak Belakang Keluhkan Sepi Pembeli

Pedagang di Lapak Belakang Keluhkan Sepi Pembeli

Pedagang di Lapak Belakang  Keluhkan Sepi Pembeli
Lapak urutan belakang ini jarang dilalui pembeli karena jalur yang ada selama ini hanya di bagian halaman Pasar Induk Imbayud Taka saja

TANA TIDUNG- Diakui oleh pedagang yang ada di Pasar Induk Imbayud Taka, Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap terutama yang mendapat tempat atau lapak di deretan paling belakang, jarang dihampiri oleh pembeli sehingga pendapatan yang mereka peroleh dalam sebulannya tidak menentu, kendati ia mensyukuri lapak yang disiapkan oleh pemerintah Kabupaten Tana Tidung (KTT) tersebut tidak menarik harga sewa tinggi seperti yang kerapkali terjadi di sejumlah daerah.
Hartati, pedagang kelontong yang ada di Pasar Induk Imbayud Taka ini pada Senin (12/2) kemarin mengatakan bahwa penempatan lapak di deretan belakang karena tak adanya lagi tempat yang tepat untuk jenis barang yang ia dagangkan sebab rata-rata lapak yang lainnya hanya merupakan lapak untuk berjualan sayuran dan sembako saja, sehingga tempat yang ia tempati sekarang tetap saja ia syukuri meskipun pembeli sangat jarang singgah ke tempatnya.
Menurutnya, perlu ada pergantian jalur dimana saat ini jalur jalan yang diterapkan pemerintah hanya melalui jalan yang ada persis di kawasan halaman parkir saja sehingga jalur menuju tempat dagangnya memang bukan merupakan tempat yang harus dilalui pembeli, maka tak heran dalam seharinya ia bersyukur jika ada beberapa orang yang singgah ke tempatnya.
“Jalur jalannya selama ini hanya melalui sekitar halaman parkir saja sementara warung saya ini letaknya di samping dan urutan paling belakang makanya jangan heran pembelinya juga jarang sebab siapa yang mau mampir kesini, kalau jalurnya tidak melalui disini, saya sangat berharap pemerintah mau menerapkan jalur jalan baru yang memang memutar pasar seperti di Pasar Gusher yang ada di Tarakan jadi semua pedagang dilewati pembeli,” jelasnya.
Dengan terapan jalur ini, ia menyebut bahwa secara tidak langsung akan menaikkan omset penjualannya yang kini semakin hari semakin sepi saja, hanya pada momen-momen tertentu saja pembeli akan singgah ke tempatnya sementara hari biasanya dalam sehari diperkirakan tak melebihi lima pembeli yang membeli.
“Dalam sehari tidak lebih dari Rp 200 ribu bisa diperoleh jadi kalkulasi saja dalam sebulan, itupun kurang dari perhitungannya, entah sampai kapan begini setidaknya bila jalur jalan ini dirubah ada kemungkinan pembeli akan tetap melintas, bukannya tidak bersyukur memang dideretan belakang jarang ada pembelinya, walaupun kami berterima kasih terhadap pemerintah yang tidak menetapkan tarif tinggi bagi pedagang seperti kami ini,” imbuhnya.
Hal senada juga diungkapkan oleh pedagang pakaian yang ada di kawasan belakang tersebut, Yani, bahwa ia sendiri harus menerima kenyataan pahit tidak adanya pembeli satupun dalam seharinya, sehingga ia terkadang merasa sia-sia mengeluarkan pakaian-pakaian untuk dijual sementara pembeli tak ada yang singgah, ia pun menganggap bahwa karena lapak mereka tidak dilewati oleh masyarakat. 



Lazada Indonesia