Home » Utama » Penyidik Periksa 26 Saksi Korban

Penyidik Periksa 26 Saksi Korban

TARAKAN – Sejak insiden puluhan pelajar di SMP Negeri 2 keracunan usai makan nasi uduk di kantin sekolahnya, Rabu (7/2) sepekan lalu, Satreskrim Polres Tarakan mulai memanggil sejumlah saksi dari korban sejak Senin (12/2) lalu.
Kapolres Tarakan AKBP Dearystone Supit, melalui Paur Subag Humas Polres Tarakan, Ipda Taharman S. Kom saat dikonfirmasi, Rabu (14/2) menuturkan pihaknya masih terus melakukan penyelidikan dengan meminta keterangan para korban. Sedikitnya, kata dia sudah ada 26 orang yang dimintai keterangan.
“Dalam perkembangan penyelidikan, kami sudah melakukan pemeriksaan saksi sebanyak 26 orang. Saksi awal yang kita periksa itu ada 5 orang dan salah satunya adalah pemilik dari kantin tersebut. Kemudian sisanya kita melakukan pemanggilan terhadap siswa yang menjadi korban keracunan massal,” ujar Ipda Taharman saat ditemui di ruang kerjanya.
Meski dugaan awal asal mula keracunan berasal dari nasi uduk yang dikonsumsi para siswa, namun berbeda dari keterangan saksi. Ternyata tidak semua korban ini merasakan mual, pusing hingga muntah-muntah usai memakan nasi uduk, namun ada makanan lain yang dikonsumsi.
“Ada beberapa siswa juga yang mengaku memakan bubur ayam dan nasi lalap juga mengalami keracunan,” katanya.
Jadi, lanjut mantan penyidik Badan Narkotika Nasional (BNN) Tarakan ini, belum pasti apakah karena makan nasi uduk lalu mengalami keracunan. “Karena, ada juga yang makan makanan lain selain nasi uduk kemudian mengalami keracunan juga,” imbuhnya.
Ia menambahkan, untuk memastikan lebih pasti penyebab pasti puluhan pelajar tersebut keracunan, pihaknya masih menunggu hasil laboratorium terhadap sampel makanan dari kantin tersebut. Untuk diketahui, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan mengirim sampel makanan tersebut ke laboratorium yang ada di Samarinda.
“Hasil dari lab belum kita dapatkan, kemungkinan dua hari ke depan baru ada hasilnya dan kemungkinan minggu depan baru kita bisa umumkan hasil dari lab tersebut,” kata pria berpangkat balok satu ini.
Dalam berita sebelumnya disampaikan juga, selama kasus ini masih dalam penyelidikan, pihak kepolisian sendiri belum memberikan izin kepada pemilik kantin untuk kembali berjulan.
“Sampai sekarang kan kantin di SMP 2 masih diberikan garis polisi. Karena belum ada titik terang, makanya belum kita izin beroperasi lagi,” tandasnya.
Disinggung soal tindak pidana, jika dalam hasil penyelidikan ditemukan adanya kelalaian dari pemilik kantin, yang membuat para siswa keracunan, maka bisa saja pemilik kantin akan dipidanakan dan akan dikenakan undang-undang perlindungan konsumen.
“Itu (ditindak pidana, Red) sudah jelas, kalau terbukti ya bisa saja. Tapi, kan saat ini kita masih tunggu hasil penyelidikan kedepannya termasuk hasil laboratorium itu nanti yang akan menjadi bukti,” pungkasnya.
Diberitakan sebelumnya, puluhan pelajar SMP Negeri 2, sekira pukul 11.30 Wita, Rabu (7/2) pekan lalu dilarikan ke Puskesmas Karang Rejo di Jalan Ki Hajar Dewantara, Kelurahan Karang Balik, Kecamatan Tarakan Barat. Diduga, para pelajar ini keracunan usai makan nasi uduk di kantin sekolahnya saat jam istirahat, sekira pukul 10.00 Wita. 



Lazada Indonesia