Home » Patroli » Sidang Kasus Pencabulan MNP Berlangsung Tertutup

Sidang Kasus Pencabulan MNP Berlangsung Tertutup

 Sidang Kasus Pencabulan  MNP Berlangsung Tertutup
TERTUTUP: Sebelum sidang dinyatakan tertutup untuk umum, terdakwa dan saksi korban dihadirkan di dalam persidangan yang diketuai langsung oleh Ketua PN, yakni Imelda Herawati.

TANJUNG SELOR – Sidang kasus dugaan pencabulan yang dilakukan oknum kepala instansi di Tanjung Selor, kembali digelar di Ruang Sidang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Selor, Bulungan. Sidang kali untuk mendengarkan keterangan saksi-saksi oleh Majelis Hakim yang terdiri dari Imelda Herawati sebagai Hakim Ketua, dan Ahmad Syarif serta Indra Cahyadi sebagai anggota.
Persidangan yang menghadirkan para saksi dan terdakwa MNP yang didampingi oleh kuasa hukumnya itu digelar secara tertutup. Tidak hanya itu, sebelum pemeriksaan saksi korban, BHD memberikan keterangan, Hakim Imelda Herawati meminta agar korban dipisahkan dari Ruang Sidang Cakra. “Jadi saksi korban kami tempatkan di ruangan pemeriksaan kesehatan anak. Karena dia (korban,red) masih anak-anak, jadi dalam pemeriksaan harus dipisah,” ujar Ketua Hakim Imelda.
Dengan demikian, dalam pemeriksaan saksi korban tersebut, majelis hakim melakukan teleconference dengan saksi korban, yang disaksikan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), beserta terdakwa dan kuasa hukum terdakwa.
Bahkan untuk saksi lainnya, seperti penyidik dan rekan BHD yang berinisial SH pun tidak diperkenankan di dalam ruang sidang, hingga mereka pun harus menunggu secara bergantian.
Berselang satu jam kemudian, pemeriksaan terhadap saksi korban pun selesai. Yang langsung dilanjutkan saksi lainnya, yakni SH dan penyidik dari kepolisian untuk dimintai keterangan terhadap perkara pencabulan yang dilakukan oleh MNP.
Dalam pemeriksaan saksi SH ini, dari pantauan Koran Kaltara, Majelis Hakim sempat dibuat bingung dengan jawaban yang diberikan oleh SH. Pasalnya, saksi SH tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Majelis hakim dalam persidangan tersebut.
Hal itu diungkapkan Penasehat Hukum MNP, Syarifuddin kepada Koran Kaltara usai sidang.
“Yah tadi sempat membuat lama, karena saksi SH sempat bingung sehingga membuat majelis hakim juga kebingungan. Namun setelah dijelaskan dengan baik, saksi pun memberikan keterangan sesuai dengan apa yang ada di BAP itu,” katanya.
Hanya saja, kata PH MNP, yang menjadi pertanyaan saat ini, mengapa ada surat penahanan terlebih dahulu sebelum dilakukan pengrebekan. “Nah itu yang menjadi persoalan bagi kami, kenapa sebelum pengrebekan itu, surat penangkapannya lebih duluan,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, dirinya meminta kepada Majelis Hakim bisa melihat kembali perkara dan mempertanyakan kepada saksi terutama saksi penyidik. “Jadi persoalan surat penangkapan itu yang kami soalkan. Sedangkan untuk pengakuan korban, maupun saksi SH sudah sesuai dengan BAP,” ungkapnya.
Dalam persidangan tersebut, JPU Evi Nurul Hidayati mengatakan, semua saksi memberikan keterangan sesuai dengan BAP-nya. Bahkan untuk melengkapi dan menguatkan juga diberikan beberapa alat bukti. “Kami juga berikan beberapa alat bukti sebagai pendukung,” kata Evi.
Lanjutnya, untuk tahap selanjutnya, Evi mengatakan akan dilakukan pembacaan pembelaan terdakwa yang akan dibacakan oleh penasehat hukumnya. “Jadi setelah pemeriksaan saksi ini, akan ada pembelaan terdakwa lagi,” pungkasnya. 



Lazada Indonesia