Home » Ekonomi » Beras Adan dan Garam Gunung Lebih Sasar Perdagangan Lintas Batas

Beras Adan dan Garam Gunung Lebih Sasar Perdagangan Lintas Batas

TANJUNG SELOR – Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMKM (Disperindagkop) Kalimantan Utara (Kaltara), Hasriyani menyampaikan, produsen penghasil beras adan dan garam gunung di Kecamatan Krayan – Kabupaten Nunukan, lebih memilih memasarkan produknya melalui perdagangan lintas batas ke negara lain. Berdasarkan informasi yang ia terima, keadaan ini dikarenakan potensi laba yang lebih besar dibanding ketika diperdagangkan di dalam daerah.
Lanjutnya, kegiatan penjualan melalui perdagangan lintas batas didominasi ke Malaysia dan juga Brunei Darussalam. Dimana konsumen pada dua negara tersebut dinilai memiliki grafik permintaan yang tinggi dan terlebih dahulu menjalin kerjasama dengan produsen yang ada. Selain itu pun, persoalan biaya distribusi yang lebih tinggi ketika dipasarkan pada daerah sendiri tidak dipungkiri secara tidak langsung membuat produsen berpikir lebih dari dua kali.
“Ini dikarenakan jarak distribusi ke sana kan cenderung lebih dekat. Sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk ongkos angkutnya,” jabar Yani saat ditemui di ruangannya, Selasa (13/2).
Adapun Yani juga menyampaikan, saat ini sistem produksi beras adan dan garam gunung sudah mulai menerapkan prinsip – prinsip industri. Kendati belum menyeluruh dan dalam keadaan siap jual secara langsung, namun penerapan standarisasi hingga pengawasan standar mutu yang baku sudah diterapkan secara maksimal.
“Garam gunung sekarang lebih bersih dibanding sebelumnya. Kalau untuk beras, sistem sortirannya juga cukup tinggi untuk level – level jenis beras,” terang Yani.
Pada kesempatan itu juga Yani menyampaikan, persoalan utama dari beras adan dan garam krayan masih terletak pada pengakuan secara tidak langsung. Secara teknis, hal ini dikarenakan komoditas yang dijual oleh petani, kemudian dikemas kembali tanpa ada keterangan lokasi Krayan sebagai daerah penghasilnya.
“Untuk sertifikasi dan hak paten memang sudah ada. Namun memang masih menjadi tugas kami untuk praktik klaim secara tidak langsung seperti itu,” tutup Yani. 



Lazada Indonesia