Home » Utama » Dewan Pertanyakan Distribusi Penjualan BBM

Dewan Pertanyakan Distribusi Penjualan BBM

Dewan Pertanyakan  Distribusi Penjualan BBM
Jumlah pasokan BBM yang besar, sementara kebutuhan BBM masyarakat terbilang kurang, namun stok BBM sering mengalami kekosongan.

TANA TIDUNG- Pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) disiapkan oleh dua Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) yakni APMS Aryan di Desa Sebidai, Kecamatan Sesayap juga APMS Trans Kujau di Kecamatan Betayau sebanyak 150 ton setiap 10 harinya.
Akan tetapi keluhan demi keluhan dari masyarakat terkait seringnya masyarakat tak mendapatkan jatah stok BBM dengan maksimal membuat berbagai pertanyaan muncul mengapakah dengan stok BBM sebesar itu tidak dapat mencukupi kebutuhan masyarakat yang mobilitasnya sangat kurang.
“Kalau kebutuhan orang kota seperti Malinau atau Tarakan bisa saja tidak cukup sebab mobilitas kendaraan yang ada disana cukup besar sedangkan untuk Kabupaten Tana Tidung (KTT) sendiri masih sangat kurang, artinya jumlah kendaraan disini masih bisa terhitung dengan baik, makanya sering menjadi pertanyaan mengapa dengan stok sebanyak itu tidak cukup, kemana arahnya BBM untuk masyarakat itu?,” tanya Anggota DPRD, M Yunus Yakau, Rabu (14/2) kemarin.
Menurutnya, jika 80 ton yang disiapkan oleh APMS Aryan di Kecamatan Sesayap dan BBM 70 ton dari APMS Trans Kujau untuk 10 hari dan perhitungan selama sebulan sebanyak 450 ton mengapa sebelum 10 hari BBM sudah ludes dan APMS harus memasok BBM kembali, jeda waktu inilah yang kerapkali dipertanyakan, artinya dengan stok BBM sebanyak itu tidak akan mungkin dapat dihabiskan masyarakat dalam waktu tidak sampai sepekan.
“Coba hitung 150 ton untuk kedua APMS dipasok kebutuhan 10 hari tapi belum sampai seminggu bahkan ada yang dua hari sudah ludes dan mereka akan memasok kembali, yang dipertanyakan kemana arahnya atau kemana oknum APMS ini menjualnya sementara masyarakat masih tetap mengeluhkan terkait seringnya mereka tak kebagian jatah BBM karena harus membeli di pengecer yang harganya tentu membebankan masyarakat,” jelasnya.
Ia menilai dengan pemberitahuan kepada masyarakat bahwa ada proses pengangkutan dan pengiriman sama sekali tak menutup kekecewaan masyarakat yang harus membeli BBM di pengecer dengan harga tinggi, bayangkan saja untuk APMS harga BBM terutama premium (bensin) di APMS Trans Kujau hanya sekitar Rp 6450 perliternya sedangkan APMS Aryan mematok dengan harga Rp 7500 perliternya.
“Yang menjadi masalah belum waktunya pembagian kepada masyarakat, stoknya sudah habis sehingga mau tidak mau masyarakat membeli ke pengecer yang harganya membebankan dan ini belum termasuk takaran yang dianggap tak sesuai takaran yang ada di penyalur resmi, seharusnya APMS yang ada melayani kebutuhan masyarakat KTT terlebih dahulu jika ada kelebihan silahkan melayani kebutuhan masyarakat atau pelaku usaha dari luar daerah yang penting keluhan dan laporana masyarakat KTT tidak timbul belakangan, apalagi sampai terjadi kekosongan selama beberapa hari yang tentunya akan membuka peluang bagi masyarakat membeli ke pengecer dengan harga Rp 10 ribu perbotolnya tidak sampai takaran satu liter (normal saat stok penyalur resmi banyak) dan menjual dengan harga Rp 15 ribu per botol ketika pasokan kosong di penyalur,” ungkapnya. 



Lazada Indonesia