Home » Utama » Populasi Banteng di Pedalaman Terancam Punah

Populasi Banteng di Pedalaman Terancam Punah

Populasi Banteng  di Pedalaman Terancam Punah

MALINAU – Banteng merupakan satu dari 25 satwa yang populasinya terancam punah. Terutama di kawasan pedalaman dan perbatasan, yakni di padang rumput Long Tua Desa Apau Ping, Kabupaten Malinau.
Berdasarkan catatan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, grafik perjumpaan banteng secara monitoring langsung, populasi banteng partisipatif padang rumput Long Tua turun naik.
Pada Februari-April 2017, tim monitoring hanya bertemu 2 populasi banteng. Pada Mei, petugas bertemu 4 populasi banteng. Bahkan, pada Juni 2017, populasi banteng jumlahnya 5 ekor.
“Ini belum bicara rasio atau jumlah keseluruhan bantengnya. Hanya berbicara metode monitoring yang dilakukan petugas kami dilapangan setiap bulannya,” ungkap Kepala Balai TNKM Malinau, Johnny Lagawurin kepada Koran Kaltara, Kamis (8/3) lalu.
Dijelaskannya, dari metode monitoring tersebut dapat disimpulkan bahwa populasi banteng di Desa Apau Ping, tepatnya di Padang Rumput Long Tua berjumlah 11 ekor. Banteng tersebut harus dilindungi dan dipelihara dengan baik.
“Maka dari itu, kami mencoba mengelola agar mereka (banteng,red) bisa bertahan. Kami mengajak masyarakat adat untuk dapat melindunginya, sehingga wilayah itu menjadi ekowisata yang dapat dikunjungi wisatawan,” ungkapnya.
Bahkan lanjut dia, untuk mempertahankan populasi banteng itu dipasang kamera dibeberapa titik.
“Dari rekaman itu, kami melihat satu banteng betina sedang hamil. Mudah-mudahan ini bisa menambah lagi populasinya,” jelasnya.
Meski diperkirakan ada penambahan populasi, namun kata dia, yang menjadi persoalan adalah tempat tinggal mereka.
Diketahui, banteng itu hidup dilahan seluas sekitar 200 hektar. “Kekhawatiran kami, ketika ruang mereka menyempit maka akan menyerang pemukiman warga nantinya,” ungkapnya.
Untuk mempertahankan populasi banteng itu, kata dia, pihaknya melakukan pembinaan habitat dengan cara pembersihan padang rumput Long Tua. Selain itu, petugas bersama masyarakat adat Apau Ping membuat irigasi sebagai tempat pengayaan para banteng itu. “Jadi di sana sudah ada kolam air juga,” ujar dia.
Disamping memperluas areal, kata da, kedepan akan melibatkan masyarakat adat agar membuat aturan. Ketika ada yang ingin merusak atau membunuh populasi tersebut maka akan dikenakan sanksi adat.
“Sebenarnya di jaman dulu mereka sangat menjaga dan melarang keras, tapi sifatnya masih lisan saja. Kedepan, kita mendorong agar ada rambu-rambu, sehingga masyarakat bisa mematuhi dan menjaga keberadaan banteng itu,” ungkapnya.
Dia berharap kepada lembaga lingkungan maupun WWF agar dapat masuk di kawasan TNKM tersebut. “Kami berharap WWF atau lembaga lainnya juga bisa mengawasi ekosistem flora dan fauna di TNKM ini,” pungkasnya. 



Lazada Indonesia