Home » Patroli » Di Persidangan, MN Bantah Rencanakan Pembunuhan

Di Persidangan, MN Bantah Rencanakan Pembunuhan

TARAKAN - Dituntut hukuman seumur hidup dengan dakwaan primair pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, terdakwa Muhammad Nur (MN) membantah dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU), melalui Penasehat Hukum (PH) Nunung Tri Sulistyawati, pada sidang yang digelar Senin (12/3) kemarin.
Menurut PH terdakwa, MN tidak bermaksud melakukan pembunuhan terhadap Muhammad Ilyas (MI).
“Tujuan terdakwa hanya menganiaya korban, karena tidak bisa menahan sakit akibat dari pukulan korban yang menggunakan helm, sehingga kematian korban bukan tujuan terdakwa,” kata Nunung, dalam pembelaannya.
Ia juga mengulas buku R. Soesilo bahwa penganiayaan adalah sengaja menyebabkan perasaan tidak enak, sakit dan terluka. Sementara, keterangan saksi yang menyatakan bahwa korban meninggal dunia sebelum mendapatkan perawatan medis.
Istilah berencana, kata Nunung, seharusnya adalah suatu saat menimbang dan melakukan dengan tenang. Untuk melakukan dengan tenang haruslah memenuhi 3 syarat, yaitu memutuskan kehendak dalam suasana tenang, tersedianya waktu yang cukup sejak timbulnya kehendak hingga pelaksanaannya dalam kondisi tenang.
“Sedangkan kondisi terdakwa dalam keadaan shock, panik dan sedang dalam kondisi suasana emosi tinggi karena dipukuli terdakwa menggunakan helm. Sehingga tidak mungkin terdakwa memenuhi tiga syarat tersebut,” ungkapnya.
Nunung beranggapan, pasal 351 KUHP tentang penganiayaan yang mengakibatkan matinya seseorang lebih terbukti secara sah dan meyakinkan. “Berdasarkan fakta di persidangan, kami memohon kepada Majelis Hakim untuk menyatakan terdakwa tidak bersalah melakukan tindak pidana sesuai dalam tuntutan JPU dalam dakwaan primair,” tegasnya.
Terpisah, JPU Deby F Fauzi dikonfirmasi usai sidang menuturkan beberapa pertimbangan JPU sebelum menuntut hukuman seumur hidup dari dakwaan primair Pasal 340 KUHP, salah satunya adalah tempat pertemuan terdakwa, bukan merupakan jalan menuju rumah terdakwa, melainkan jalan menuju rumah korban.
“Menunjukkan terdakwa menunggu ke arah pulang ke rumah korban. Terdakwa juga sebenarnya memiliki tenggang waktu untuk berpikir dengan tenang apakah akah melakukan perbuatannya atau tidak,” ujarnya.
JPU yang tetap pada tuntutan seumur hidupnya, juga menambahkan seharusnya terdakwa menghindari korban setelah perkelahian pertama di warung makan, agar tidak tersulut emosi.
“Seorang yang melakukan tindakan dengan sadar, sengaja melakukan sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, tapi tidak menginginkan akibat dari perbuatannya, itu sudah memenuhi unsur sengaja dalam pasal 340 KUHP,” tandasnya.
Sidang diagendakan mendengarkan putusan dari Majelis Hakim yang diketuai Christo E.N Sitorus pada Kamis (15/3) pekan ini.
Untuk diketahui, sebelumnya Muhammad Nur terjerat kasus penikaman yang berujung kematian korban MI (21) di pinggir Jalan Wijaya Kesuma tidak jauh dari Restoran B21, Perumnas, sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri pada Juni lalu.
Menurut keterangan saksi yang hadir di persidangan, perkelahian MN dan korban ini berawal saat korban tertawa sambil melihat HP. MN menduga korban sedang menertawainya. Hingga terjadi perkelahian di depan sebuah warung di Jalan Karang Anyar dan berlanjut ke Jalan Wijaya Kesuma. 



Lazada Indonesia