Home » Ekonomi » Toko Dilarang Cantumkan Label Pecah Berarti Membeli

Toko Dilarang Cantumkan Label Pecah Berarti Membeli

Toko Dilarang Cantumkan Label Pecah Berarti Membeli
KLAUSA Baku–Kasi Perlindungan Konsumen dan Pengawasan menjelaskan laporan dari Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen tahun 2017.

TANJUNG SELOR – Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UMK (Disperindagkop) Kalimantan Utara (Kaltara), Hartono melalui Kepala Seksi Perlindungan Konsumen dan Pengawasan, Septi Yustina menyampaikan, pihak pengelola toko dilarang mencantumkan label “Pecah Berarti Membeli” dan yang sejenisnya.
Menurutnya, sikap tersebut melanggar hak perlindungan konsumen. Dimana faktor keamanan barang yang sejatinya menjadi tanggung jawab pengelola toko fungsinya bergeser dengan dibebankan kepada masyarakat selaku pihak konsumen.
Secara teknis Septi menjelaskan, peraturan ini sudah diatur dalam klausa baku perdagangan. Dimana melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) sebagai leading sector-nya, informasi ini secara bertahap disebar luaskan untuk seluruh pemilik toko. Di luar itu pun, Septi mengatakan bahwa masyarakat pun dapat berperan untuk menegakkan peraturan tersebut.
“Toko tidak boleh mencantumkan label tersebut dan sejenisnya. Karena faktor keamanan merupakan tanggung jawab pemilik toko, bukan berada di pihak konsumen. Sehingga apabila tidak ditertibkan, label tersebut berpotensi membuat konsumen merugi,” terang Septi saat ditemui di meja kerjanya, Selasa (13/3).
Selain peraturan tersebut, pengelola toko juga tidak boleh lalai dalam menjamin kepastian label harga. Septi menekankan, konsumen berhak mendapatkan harga sesuai dengan label dalam barang yang dibelinya. Sehingga apabila ditemui harga tersebut tidak sama, pemilik toko tidak boleh memberi harga yang nominalnya jauh lebih mahal.
Berbicara lebih spesifik terhadap sengketa konsumen yang difasilitasi BPSK Kota Tarakan, Septi menerangkan terdapat satu kasus yang penyelesainnya hingga ranah pengadilan. Dimana meski berujung dengan kesepakatan damai, hal tersebut setidaknya dapat dijadikan oleh pihak konsumen dan pemilik toko.
“Konsumen harus berani melaporkan apabila merasa dirugikan. Mereka tidak perlu takut, karena sudah ada tim teknis yang menanganinya. Kasus seperti ini pun harus diperhatikan pemilik toko, mereka tidak boleh sedikit pun lalai, apalagi yang berhubungan dengan standar kelayakan makanan dan minuman,” tutup Septi. 



Lazada Indonesia