Home » Kesehatan » Penelitian Tak Biasa, Racun Kalajengking hingga Antibodi Kecoak

Penelitian Tak Biasa, Racun Kalajengking hingga Antibodi Kecoak

Penelitian Tak Biasa, Racun  Kalajengking hingga Antibodi Kecoak

JAKARTA - Keanekaragaman hayati Indonesia bisa dibilang luar biasa. Hal ini dikatakan peneliti senior membuat banyak objek penelitian tak biasa. Tak hanya racun kalajengking, antibodi kecoak pun menurutnya bisa diteliti.
Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menyebut kecoak merupakan serangga dengan antibodi yang sangat kuat. Kecoak hidup di tempat kotor, namun tidak terpengaruh oleh banyaknya kuman yang menempel di tubuhnya.
“Kecoak itu kan adanya di tempat yang kotor. Tapi dia nggak sakit, padahal badannya penuh kuman, virus, bakteri hingga jamur. Berarti dia punya mekanisme yang membuat dirinya tidak sakit. Kalau diteliti dan bisa diaplikasikan ke manusia, manfaatnya pasti besar,” ungkap Prof Amin, ditemui di daerah Senayan, Jakarta Selatan.
Ada dua teori mengapa kecoak bisa memiliki antibodi super terhadap kuman. Pertama, bisa jadi antibodi tersebut merupakan bawaan dari tubuhnya. Teori kedua, kecoak memiliki mekanisme yang membuatnya kebal terhadap gangguan dari luar. Itu sebabnya kecoak bisa kebal terhadap kuman.
“Kecuali insektisida ya. Jadi serangga walau kecil, semakin menarik untuk diteliti. Mereka bisa mengembangkan sistem untuk melawan challenge dari luar, baik itu bahan kimia maupun biologi,” tandasnya.
Sebelumnya, peneliti zoologi dari Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahfitri Anisa, menyebut penelitian yang sudah ada membuktikan manfaat racun kalajengking. Di antaranya adalah untuk mengobati kanker hingga antimikroba.
Dijelaskan Syahfitri, protein pada racun kalajengking memiliki banyak fungsi. Ada yang menyerang sel darah hingga menyebabkan pendarahan, ada pula yang merusak sel hingga menyebabkan sel mati.
Dengan meneliti fungsi-fungsi komponen protein pada racun kalajengking, peneliti berharap menemukan protein dengan karakteristik komponen yang cocok. Misalnya, protein yang berfungsi untuk menyerang sel diambil dan dikembangkan untuk menjadi obat kanker yang hanya menyerang sel-sel kanker di tubuh manusia.
Prinsip yang sama juga diterapkan pada komponen protein yang berfungsi untuk membunuh mikroba. Dengan begitu, harapannya masalah resistensi mikroba dan antibiotik yang saat ini menjadi masalah bisa teratasi. “Jadi dengan mengambil protein yang diinginkan, dengan fungsi tertentu yang sudah ditargetkan, misalnya untuk membunuh sel kanker, venom bisa digunakan untuk menyembuhkan,” tandasnya. 



Lazada Indonesia