Home » Headline » HTI Lebih Baik daripada Sawit

HTI Lebih Baik daripada Sawit

HTI Lebih Baik daripada Sawit
HTI - Salah satu perusahaan yang bergerak di bidang hutan industri dengan memproduksi kayu karet di Bulungan, Kaltara.

TANJUNG SELOR - Dirjen Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Hilman Nugroho mengatakan berdasarkan tiga pilar dalam pengelolaan sumber daya alam, perusahaan yang bergerak di Hutan Tanaman Industri (HTI) lebih baik dari pada perkebunan kelapa sawit. Namun dari sisi ekonomi, sawit bisa lebih baik dari HTI.
Ia menjelaskan bahwa sektor perhutanan dinilai bakal menjadi salah satu penopang ekonomi di Indonesia pada tahun-tahun mendatang, termasuk di Kalimantan Utara. Dengan luas hutan yang mencapai 4,5 juta hektare, potensi hutan di Kaltara sangat besar untuk dimanfaatkan. Jika dikelola dengan baik, sektor kehutanan bisa menghasilkan kontribusi pendapatan bagi negara hingga sembilan kali lebih besar dibanding yang ada saat ini.
Hilman Nugroho menegaskan, dengan potensi hutan yang besar, salah satunya hutan produksi, mempunyai tiga pilar. Pertama, sistem penyangga kehidupan, baik air, udara dan tanah. Kedua, pengawetan plasma nutfah flora dan fauna. Yang terakhir adalah pemanfaatan.
“HTI jelas lebih baik (dibanding sawit) jika dilihat dan dibagi menjadi tiga bagian. 10 persen untuk kawasan perlindungan, 20 persen untuk lahan tanaman kehidupan bagi masyarakat, dan 70 persen untuk tanaman pokok,” katanya saat berada di kawasan perkebunan karet milik PT Kayan Makmur Sejahtera (KMS) yang berada di Kecamatan Tanjung Palas Timur, Bulungan, Selasa (8/5).
Pemanfaatan hutan saat ini didorong bukan lagi ke pengambilan kayu, melainkan lebih kepada mengambil hasil hutan bukan kayu. Sebagai contoh, pemanfaatan hutan sebagai hutan produksi untuk tanaman karet. Selain menghasilkan karet saat masa produktif, setelah berumur 30 tahun, kayu dari pohon karet bisa dimanfaatkan untuk beragam kerajinan maupun hasil lainnya. Artinya, lebih banyak menghasilkan keuntungan untuk diambil hasil non kayunya dibandingkan diambil kayunya langsung.
“Untuk hasil hutan bukan kayu untungnya lebih banyak. Dari hutan, yang dari pohonnya itu hanya 5 persen saja. (Sedangkan) 95 persen sisanya merupakan hasil dari jasa lingkungan dan hasil hutan bukan kayu. Misalnya, seperti yang dikatakan Presiden Jokowi, kalajengking, jamur, dan masih banyak lagi dari hasil hutan bukan kayu. Tapi, kalau tidak ada kayunya, ya, tidak bisa terjadi yang 95 persen itu,” bebernya. 



Lazada Indonesia