Home » Worldsport » Dominasi Wakil Spanyol di Eropa

Dominasi Wakil Spanyol di Eropa

Dominasi Wakil  Spanyol di Eropa
dailymail JUARA LAGI: Pemain-pemain Atletico Madrid, mengangkat trofi Europa League yang tahun ini jadi yang ketiga kalinya mereka dapatkan.

LYON – Seperti yang sudah diduga sebelumnya, tak ada kejutan yang terjadi pada final Europa League yang berlangsung Kamis (17/5) dinihari tadi. Wakil Spanyol Atletico Madrid yang digadang jadi kampiun ajang ini mewujudkan prediksi itu dengan menumbangkan wakil Prancis, Marseille tiga gol tanpa balas dalam laga yang dimainkan di Groupama Stadium, Lyon, Prancis tersebut.
Antoine Griezmann jadi bintang kemenangan Los Cholchoneros dengan dua gol yang dicetaknya menit 21 dan 49 serta satu gol dari Gabi menit 89 yang memantapkan kemenangan 3-0 Atletico. Ini adalah gelar ketiga Atletico di Liga Europa setelah sebelumnya berjaya pada musim 2009/2010 dan 2011/2012.
Sukses Atletico ini sekaligus meneruskan dominasi tim Spanyol di kompetisi antarklub Eropa. Sejak 2013/2014, tim Spanyol memenangi delapan dari sembilan trofi Liga Champions dan Liga Europa. Liga Europa 2016/2017 jadi satu-satunya pengecualian. Kala itu, Manchester United tampil sebagai juara setelah mengalahkan Ajax Amsterdam di babak final.
Dalam dominasi Spanyol di rentang waktu tersebut, Sevilla sempat memenangi Liga Europa tiga kali secara beruntun yang dimulai pada 2014. Sementara di Liga Champions, Madrid juara tiga kali ditambah Barcelona satu kali. Madrid bisa membuat tim Spanyol makin menancapkan dominasinya jika bisa menjuarai Liga Champions musim ini. Los Blancos harus lebih dulu melewati adangan Liverpool di babak final yang akan dimainkan pada 26 Mei.
Pelatih Atletico Madrid Diego Simeone memastikan gelar ini bukan sekadar trofi. Simeone, yang tak bisa membantu tim di pinggir lapangan karena sanksi dan harus menonton dari tribun, mengungkapkan betapa pentingnya kemenangan ini. Ia menjabarkan arti kesuksesan di Liga Europa bagi Atletico. “Ini menjadi musim penuh tantangan dan saya pikir Liga Europa lebih dari sekadar trofi. Ini adalah kemenangan untuk semua yang kami perjuangkan, untuk kerja keras, dan industri. Kami menemukan kembali jati diri di kompetisi ini. Dan saat melawan Arsenal kami sudah menunjukkan itu,” ungkapnya.
“Musim ini belum berakhir. Kami membutuhkan satu poin lagi untuk mengamankan posisi dua dan harus bisa melakukannya, untuk menunjukkan bahwa kami masih bisa bersaing dengan para rival,” imbuhnya.
Bagi Marseille, ini merupakan akhir yang sangat pahit bagi mereka. Ini adalah kegagalan ketiga dalam tiga penampilan mereka di final Piala UEFA/Liga Europa. Yang makin mengenaskan, mereka juga tak mencetak satu gol pun di tiga final tersebut.
Di final Piala UEFA 1998/1999, Marseille digebuk Parma 0-3. Tiga gol Parma ketika itu dicetak oleh Hernan Crespo, Paolo Vanoli, dan Enrico Chiesa. Marseille juga kalah ketika berhadapan dengan Valencia di final Piala UEFA 2003/2004. Mereka, yang saat itu diperkuat oleh Didier Drogba, menyerah 0-2 setelah gawangnya dibobol Vicente dan Mista. “Kami berjuang, tapi kami kurang pengalaman. Yang lebih penting lagi, kami harus belajar dari pertandingan-pertandingan ini untuk maju,” ujar bek Marseille, Adil Rami, seusai laga melawan Atletico.
Rekan setim Rami, Bouna Sarr, juga tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. “Tentu saja kami kecewa kalah di final ini dan tak bisa mengangkat trofi setelah melangkah begitu jauh di kompetisi ini. Kami punya peluang untuk tampil lebih baik karena kami menciptakan beberapa kesempatan pada awal pertandingan,” kata Sarr. 



Lazada Indonesia