Home » Utama » Kebutuhan Air Bersih Warga Belum Terpenuhi

Kebutuhan Air Bersih Warga Belum Terpenuhi

TANA TIDUNG- Minimnya pelayanan air bersih dari PDAM membuat warga yang ada di sejumlah desa di Kabupaten Tana Tidung (KTT) masih mengandalkan air sungai termasuk air hujan untuk penuhi kebutuhan air bersih mereka.
Hal ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi Pemkab untuk memenuhi kebutuhan mendasar masyarakat, apalagi diketahui air sungai yang digunakan sebagai aktivitas warga seperti di Sungai Sesayap jauh dari kategori air bersih.
Jamhari, warga Desa Bebatu, Jamhari mengatakan bahwa ia bersama warga lainnya terbiasa menggunakan air sungai baik untuk mencuci, mandi hingga konsumsi, warga sendiri sangat menyadari air sungai tidak dapat menjamin kesehatan mereka akan tetapi karena tingginya kebutuhan akan sarana air bersih membuat mereka harus bertahan dan terus menerus menggunakan air sungai tersebut.
“Sudah tidak adalagi sumber air yang bisa kami andalkan walaupun kami tahu air sungai sangat kotor dan tidak layak konsumsi namun kebutuhan kami baik untuk mandi dan mencuci pakaian termasuk juga untuk minum tidak bisa kami peroleh dari sumber lainnya,” kata Jamhari, Kamis (17/5) kemarin
Dikatakannya, untuk mengambil air sungai ada yang melalui proses penyedotan air menggunakan mesin pompa air yang langsung dialirkan kerumah warga, tapi untuk itu warga harus mengeluarkan biaya operasional antara Rp 700 ribu sampai jutaan rupiah guna membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) karena pembelian BBM menggunakan mesin genset sebagai cadangan listrik.
Setelah proses penyedotan air dilakukan biasanya warga akan mengendapkan air selama semalaman penuh berlanjut diberikan pemutih air supaya air benar-benar dianggap bisa digunakan untuk kebutuhan setiap harinya.
Ia menyebut kotornya air sungai setempat mengingat banyaknya aktivitas warga mulai dari mencuci langsung di sungai, transportasi sungai yang setiap harinya melintas di sungai juga diketahui terkadang menumpahkan sisa-sisa Bahan Bakar Minyak (BBM) di sungai, makanya saat ini kebersihan sungai dipertanyakan, artinya meski dengan proses pengambilan air yang dilakukan warga sama sekali tak menjamin kebersihan air yang dipakai tersebut, warga terkadang alami gatal-gatal pada kulit, jika dipakai menggosok gigi maka gigi akan tampak kekuningan dan lama kelamaan akan menghitam, selain itu digunakan untuk mencuci pakaian pun, hasil pakaian kekuningan terutama jika warna kainnya putih bersih.
“Air sungai yang kami pakai memang melalui proses panjang sebelum digunakan tapi siapa yang bisa menjamin kalau air yang digunakan benar-benar steril, selain itu penggunaan mesin pompa air tidak semua warga dapat memilikinya terutama warga yang tidak mampu sebab disini rata-rata hanya nelayan dan petani saja sebagai sumber mata pencaharian kami, makanya kami sangat berharap pemerintah dapat menyelesaikan Pekerjaan Rumah (PR) bagi warga yang tinggal dipedesaan yang sampai saat ini belum terlayani termasuk desa kami supaya kami dapat menikmati air PDAM dengan maksimal,” harapnya.
Menurut informasi, kebutuhan untuk pembelian mesin pompa air sekitar Rp 600 ribu sampai Rp 1,5 juta sedangkan tenaga listrik karena Desa Bebatu yang ada di Kecamatan Sesayap Hilir ini belum teraliri setruman maksimal dimana penerangan subsidi dari pihak perusahaan hanya beroperasi selama kurang lebih enam jam saja dimulai dari Pukul 6 sore hingga Pukul 12 tengah malam maka warga terpaksa harus membeli mesin genset sebagai cadangan listrik mereka yang diperkirakan sebesar Rp 1,5 juta sampai Rp 3,5 juta per unit mesin sesuai kapasitas atau daya mesin itu sendiri.
“Kami berharap pemerintah mau merealisasikan permintaan kami untuk diadakannya sarana air bersih dari PDAM supaya dapat meringankan beban warga karena air PDAM minimal kami hanya membayar tagihan sesuai pemakaian yang tidak mungkin sebesar pengeluaran kami saat ini,” pintanya.  



Lazada Indonesia