Home » Utama » Mudah Didapat, Pengecer Pilih Jual Pertalite

Mudah Didapat, Pengecer Pilih Jual Pertalite

TANA TIDUNG- Hadi, salah satu pengecer di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, mengatakan, ia lebih memilih berjualan BBM jenis pertalite daripada premium, meski pertalite harganya sedikit lebih mahal di Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) sekitar Rp 8.400 perliter dan ia jual dengan harga Rp 10 ribu perliternya.
“Kalau harga bensin (premium) harganya hanya Rp 6.450 perliter yang jika dijual dengan harga Rp 10 ribu tentu untungnya akan berlipat-lipat, akan tetapi untuk mendapatkan pasokannya tidak gampang karena sekarang APMS punya aturan membatasi makanya untuk amannya saya menjual pertalite meski keuntungannya tidak banyak,” ujarnya, Jumat (8/6) kemarin.
Pertalite sendiri sudah mulai banyak beredar di pengecer walaupun tak selaris premium, namun lama kelamaan ia meyakini kebiasaan masyarakat menggunakan pertalite akan terjadi sebab harga pertalite disamakan dengan harga premium.
Untuk pembelian pertalite sendiri pihak APMS tidak mempersulit apalagi pelaku usaha seperti dirinya yang hanya usaha jualan pertalite kecil-kecilan dengan jumlah modal dibawah Rp 1 juta sehingga untuk pembelian pertalite sendiri tidak mengalami kendala sama sekali.
“Kebetulan modal yang saya miliki tidak seberapa masih dibawah Rp 1 juta makanya pembelian pertalite di APMS tidak terlalu dipersulit, makanya saya berjualan bertahap dengan membeli pertalite hanya 50 – 60 liter saja setiap harinya, dan ini sudah sesuai jatah yang diberikan APMS perharinya, daripada rebut dengan jatah premium yang tidak ada habisnya lebih baik beralih menjual pertalite walaupun keuntungan tidak sebesar menjual premium,” imbuhnya.
Dengan penjualan Rp 10 ribu perbotolnya sendiri pengecer punya alasan lantaran saat membeli di APMS maupun pangkalan, harga yang sudah standar akan tetap dinaikkan artinya memang ada perbedaan harga antara masyarakat dengan pelaku usaha, misal untuk masyarakat harganya Rp 6450 sedangkan pelaku usaha dijual dengan harga Rp 7500 perliternya, ditambah lagi bila membeli di pangkalan sering ditemui takaran untuk 200 liter di satu wadah (drum) kurang dimana maksimalnya hanya berisi 190 – 195 liter saja.
“Kalau beli dipangkalan takarannya kurang, mana harganya sudah mahal jika dibandingkan dengan harga BBM yang stabil dan normal makanya jangan heran kalau kami mengurangi takaran atau memenuhi takaran tapi harga jualnya tinggi disbanding harga yang berlaku di penyalur, jangan kalau ada apa-apa kami disalahkan karena dianggap mengambil keuntungan tinggi, saya sendiri lebih memilih mendapatkan keuntungan kecil yang penting tidak rebut dan dipersoalkan,” paparnya. 



Lazada Indonesia