Home » Utama » Dua Desa di Muruk Rian Belum Nikmati Listrik

Dua Desa di Muruk Rian Belum Nikmati Listrik

TANA TIDUNG- Warga yang ada di Kecamatan Muruk Rian khususnya Desa Seputuk dan Desa Belayan Ari sampai saat ini belum menikmati layanan listrik sebagaimana desa-desa yang lainnya yang terlebih dahulu telah menikmati listrik 24 jam. Tentu saja dengan tidak adanya layanan listrik dikawasan desa mereka menjadi kecemburuan social tersendiri bagi warga tersebut.
Menurut Anggota DPRD, M Yunus Yakau belum lama ini bahwa dua desa ini memang hingga saat ini belum teraliri listrik dengan baik. Meski pemasangan jaringan kedua desa ini telah dilakukan akan tetapi pengoperasiannya belum juga terealisasi makanya ia yang notabene penduduk Desa Seputuk sangat mengharapkan agar pemerintah provinsi yang saat ini memiliki wewenang penuh atas setruman ini untuk dapat mewujudkan kebutuhan penerangan di sejumlah desa yang belum menikmatinya.
“Listrik menjadi sarana yang paling vital untuk mengembangkan SDM salah satunya dengan penggunaan komputerisasi, pengembangan pengetahuan melalui informasi media elektronik ataupun televisi tidak bisa dilakukan jika salah satu kawasan belum menikmati setruman, sebab bila ini belum direalisasikan maka desa tersebut akan semakin tertinggal, kami sangat berharap pengoperasiannya dapat segera dilakukan supaya ada kemudahan bagi daerah untuk terus berkembang,” tambahnya.
Ia mengakui bukan hanya dua desa ini saja yang belum menikmati listrik namun juga desa yang ada di pesisir sampai saat ini belum tersentuk penerangan sama sekali, seperti Desa Bebatu Kebun, Bebatu Supa, Bandan Bikis, Menjelutung serta Sengkong di Kecamatan Sesayap Hilir meski ada subsidi perusahaan di satu atau dua desa ini akan tetapi belum maksimal lantaran hanya tersubsidi sekitar 6 jam saja selama 24 jam penuh.
“Akan sulit bagi desa untuk berkembang sebab mereka akan semakin jauh tertinggal baik informasi ataupun pengetahuan karena tidak adanya layanan listrik, kawasan pesisir juga membutuhkan layanan lebih sebab selama beberapa tahun ini hanya dibantu oleh perusahaan untuk penerangan dari Pukul 6 sore sampai Pukul 12 tengah malam sementara sisanya biasanya diisi warga dengan pengadaan mesin genset sebagai cadangan penerangan bagi mereka,” paparnya.
Penggunaan mesin genset sendiri tidak maksimal sebab tidak semua warga mampu membeli mesin dengan kisaran harga Rp 1,3 juta sampai Rp 3,5 juta perunitnya tergantung kapasitas mesinnya, dan ini belum termasuk pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diperkirakan dikeluarkan warga sebesar Rp 700 ribu sampai Rp 1,5 juta setiap bulannya.
Selain itu penggunaan mesin genset kerapkali dikeluhkan warga yang sering merasa alat elektronik mereka cepat sekali rusak karena daya mesin yang sering turun naik tidak menentu, tak heran dengan begitu besarnya biaya operasional dikeluarkan, warga yang tidak terlayani listrik sangat berharap dana meminta agar dapat direalisasikan supaya mereka dapat mengejar ketertinggalan pengetahuan, SDM dengan kawasan daerah lainnya baik yang ada di Kabupaten Tana Tidung (KTT) itu sendiri maupun daerah yang ada di Kaltara. 



Lazada Indonesia