Home » Utama » Disdukcapil Klaim Jemput Bola 500 Dokumen

Disdukcapil Klaim Jemput Bola 500 Dokumen

MALINAU – Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Malinau menyatakan pelayanan jemput bola di kawasan perbatasan bersama Dukcapil Kaltara mencapai 500 dokumen kependudukan.
“Untuk di wilayah perbatasan yang bekerjasama dengan Provinsi Kaltara pada awal Mei lalu, cukup memuaskan. Karena di dua Kecamatan yakni Kayan Hulu dan Kayan Selatan, kurang lebih 500 dokumen kependudukan yang diterbitkan,” ungkap Kadisdukcapil Malinau, Zainal Arifin kepada Koran Kaltara saat ditemui diruang kerjanya, Jumat (8/6).
Adapun dokumen 500 kependudukan yang telah berhasil dilaksanakan, kata dia, yakni akte kelahiran, akte kematian, kartu keluarga dan cetak elektronik KTP. “Meski memuaskan, tapi masih terdapat beberapa warga yang memang belum mengurus dokumen kependudukan,” katanya.
Meski begitu, sambung dia, pihaknya terus berupaya agar masyarakat yang belum melakukan administrasi kependudukan bisa melalui pemerintahan desanya. “Ya, kita juga konsulidasi ke setiap desa agar melakukan pendataan kependudukan agar bisa melaporkan kepada kami. Sehingga kami bisa terbitkan dokumen kependudukan,” jelasnya.
Selain dua Kecamatan di Perbatasan ini, lanjut Zainal mengatakan di tahun 2019 nanti akan ada tiga Kecamatan di daerah perbatasan yang akan dilakukan sistem jemput bola.
“Seperti Kecamatan Pujungan, Sungai Boh dan Kayan Hilir. Ketiga wilayah ini dimungkinkan akan diusulkan tahun depan,” katanya.
Tetapi, kata dia, pengusulan tersebut melihat dari kesiapan anggaran daerah. Karena, pihaknya juga harus menghitung dari segi pembiayaan terutama transportasi untuk dapat menjangkau wilayah tersebut. Apalagi, harus menggunakan transportasi udara.
“Kami juga harus menghitung dari segi efisien anggaran dan efektifitas pendataan penduduk. Kalau hanya mencapai 100-200 dokumen kependudukan tentu tidak begitu efektif dan membuang anggaran,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, dia mengimbau kepada masyarakat di wilayah perbatasan ketika ada petugas di lapangan, maka langsung mengurus dokumen kependudukannya. Meski diketahui, keseharian masyarakat di Malinau mayoritas sebagai petani atau berladang. “Kecendurungan mereka tidak ada ditempat itu karena kesibukan mencari mata pencahariannya. Selain itu juga masih ada beranggapan bahwa dokumen kependudukan belum begitu penting,” terang.
Padahal menurut dia, dokumen kependudukan sangat dibutuhkan ketika ingin mengurus hal-hal lain dalam pelayanan publik. Misalnya, memasukkan anaknya ke sekolah, mendapatkan bantuan sosial dan lain sebagainya.
“Kalau sudah begitu pasti muncul kok dipersulit. Padahal kan tidak, jauh-jauh hari kita sudah mensosialisasikan terus menerus,” bebernya.
Meski begitu, dia mengapresiasi sebagian masyarakat Malinau yang telah mulai sadar pentingnya dokumen kependudukan tersebut.
“Karena saya melihat ketika petugas di lapangan, antusias warga cukup tinggi jika dilakukan pelayanan kependudukan itu,” pungkasnya. 



Lazada Indonesia