Home » Utama » Warga Tana Lia Beli Elpiji Langsung dari Tarakan

Warga Tana Lia Beli Elpiji Langsung dari Tarakan

TANA TIDUNG- Jumlah pangkalan gas elpiji khususnya melon ukuran 3 Kilogram (kg) terbilang sangat minim di Kabupaten Tana Tidung (KTT). Saat ini hanya ada sekitar 8 pangkalan saja dan itu tidak merata sampai ke kawasan pesisir, sehingga masyarakat yang ada di pesisir pantai seperti di Desa Bebatu Kebun, Bebatu Supa, Bandan Bikis, Menjelutung dan Sengkong di Kecamatan Sesayap Hilir serta desa-desa di Kecamatan Tana Lia akan mengambil pasokan elpiji ukuran 3 Kg tersebut langsung dari Tarakan.
“Biasanya kami akan memesan langsung dari Tarakan dan akan diangkut melalui jasa layanan kapal laut khusus barang tujuan Malinau yang singgah ke KTT, karena kalau pasokan dari pangkalan ataupun agen di KTT, sampai saat ini belum juga bisa dipenuhi kebutuhan pengecer disini juga masyarakatnya,” ujar salah satu pengecer di Desa Bebatu Kebun, Kecamatan Sesayap Hilir, Rahmawati belum lama ini.
Ia menyebut persoalan jarangnya barang beredar di pasaran pesisir lantaran sulitnya transportasi laut yang singgah ke kawasan desa mereka, kalaupun ada yang mampir biasanya harus membayar biaya operasional yang cukup tinggi sehingga harga barang yang beredar di pasaran pesisir terbilang cukup tinggi jika dibandingkan dengan harga yang ada di kawasan darat perkotaan seperti Ibukota Kabupaten, Tideng Pale.
“Hampir merata semua barang disini mahal karena biaya operasional seperti biaya angkut, biaya titipan barang dari Pelabuhan SDF di Tarakan termausk biaya lainnya, kalaupun mau mengambil pasokan di KTT apakah di agennya atau pangkalan, selama ini kebutuhan kami tak tercover karena pasokan yang ada hanya cukup buat masyarakat di kawasan darat saja,” tambahnya.
Kendati harus mengambil pasokan di Tarakan dan menjual dengan harga tinggi akan tetapi masyarakat pesisir sama sekali tak keberatan pasalnya mereka sendiri sudaha terbiasa dengan harga tinggi asalkan kebutuhan mereka terpenuhi, dengan konversi minyak tanah (mitan) ke penggunaan elpiji membuat pasokan mitan yang biasa digunakan masyarakat pesisir jarang terlihat dan harganya sendiri mencapai Rp 15 ribu perliternya.
“Banyak masyarakat disini membandingkana harga elpiji dengan harga bila menggunakan mitan, lebih berhemat lagi menggunakan elpiji, makanya saya juga sangat sayang kalau tidak mengadakan elpiji walaupun harus bersusah payah mengadakannya dari Tarakan, sebab kalau barang yang dari Tarakan saya sendiri tidak bisa melakukan pengawasan barang yang datang, hanya bermodalkan kepercayaan saja bahwa barang siap kami terima ditempat dengan barang yang sesuai harapan,” urainya.
Diketahui untuk pengambilan elpiji di Tarakan, harga lebih murah dari Harga Eceran Tertinggi (HET) di KTT dimana untuk di Tarakan ia bisa mendapatkan harga Rp 20 ribu sampai Rp 23 ribu pertabungnya sementara di KTT sekitar Rp 27 ribu pertabungnya, namun karena tingginya biaya operasional yang dikeluarkan membuat harga pasarannya tetap tinggi di pesisir pantai ini.
“Kita sangat berharap adanya tambahan pangkalan di pesisir supaya kami tidak lagi kesulitan mendapatkan pasokan elpiji melon dan harga pun bisa lebih murah serta lebih terjangkau, karena selama ini apapun fasilitas dan sarana sangat terbatas sehingga kami selalu kesulitan untuk mendapatkan satu kebutuhan termasuk elpiji melon ini padahal kebutuhan masyarakat pesisir cukup tinggi guna penuhi kebutuhan lebaran idul fitri 1439 Hijriyah,” pintanya. 



Lazada Indonesia