Home » Utama » DPKPPKB Catat 6 Kasus DBD Selama Ramadan

DPKPPKB Catat 6 Kasus DBD Selama Ramadan

DPKPPKB Catat 6 Kasus DBD Selama Ramadan

MALINAU – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPKPPKB) Malinau mencatat selama Ramadan terdapat 6 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Beberapa minggu terakhir memang ada lima atau enam kasus yang dilaporkan. Akan tetapi, sudah bisa teratasi dengan baik,” kata DKPPKB Malinau John Felix kepada Koran Kaltara, melalui telepon selulernya, Selasa (12/6).
Begitu pihaknya mendapatkan laporan tersebut, kata dia, beberapa petugas langsung melakukan investigasi di beberapa rumah pasien tersebut. Alhasilnya, saat dilapangan petugas tidak menemukan DBD cukup tinggi.
“Karena para pasien juga sudah ada yang pulang atau rawat jalan saja. Jadi memang DBD yang ada saat itu bukan, termasuk dalam kondisi Dengue Syok Syndrome (DSS). Makanya bisa teratarasi atau mampu ditangani,” ungkapnya.
Dia mengatakan, pada umumnya yang rentan terkena DBD rata-rata dibawah usia 15 tahun. Namun, tidak hanya DBD juga bisa terjangkit kepada orangtua jikalau memang dari lingkungan sekitarnya memang terlihat kotor.
“Jadi baik dibawah 15 tahun maupun dewasa bisa berdampak. Kalau kondisi lingkungannya tidak bersih,” katanya.
Selain itu, menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir in memang DBD kerap terjadi. Tetapi, peningkatan dari kasus setiap bulan ke bulan tidak signifikan. “Jadi memang setiap bulan itu ada saja DBD, tapi untuk nyamuknya itu sudah tidak menjadi endemis. Hal itu berdasarkan hasil evaluasi terhadap peningkatan kasus itu,” ungkapnya.
Evaluasi peningkatan kasus DBD, kata John, pihaknya menghitung dan melihatnya dalam seri 3 bulan sekali.
“Kalau dilihat dari 3 bulan itu cukup tinggi baru bisa masuk kategori KLB. Tapi semasa investigasi tidak menimbulkan apa-apa, dipastikan bukan termasuk KLB,” jelasnya.
Diakuinya, setiap ada kasus yang didapatkan berdasarkan laporan tersebut pihaknya pun langsung melakukan investigasi untuk memastikan apakah dalam radius rumah pasien juga terdapat kasus yang sama.
“Kalau dengan radius yang begitu jauh baru sama kasus. Tentu patut diwaspadai dan diberikan warning kepada anak dan orangtua. Tapi ketika tidak ditemukan jentik dalam radius itu, artinya wilayah lingkungan bersih,” ungkapnya.
Berkumpulnya nyamuk DBD ini, diakui, ketika kondisi lingkungan yang masih kumuh dan tidak bersih. “Kalau dilingkungan bersih, tentu nyamuk DBD tidak begitu banyak,” katanya.
Dia memastikan untuk kasus DBD yang ada di Malinau bisa terkendali. Sebab, setiap tahunnya juga tidak begitu tinggi untuk jumlah DBD yang ditemui di lapanga. “Jumlahnya tidak begitu signifikan seperti tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya. 



Lazada Indonesia