Home » Headline » Ekonomi Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Alami Kontraksi

Ekonomi Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan Alami Kontraksi

TANJUNG SELOR – Kepala Biro Perekonomian Setprov Kalimantan Utara (Kaltara), Usdiansyah menjelaskan, pertumbuhan lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan, mengalami kontraksi atau melambat pada triwulan I 2018. Berdasarkan infoirmasi yang ia dapat dari Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat sektor ini tumbuh melambat sebesar 3 persen dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh mencapai 5 persen.
Lanjutnya, perlambatan kinerja sub lapangan usaha perikanan dan sub lapangan usaha perkebunan, menjadi penyebab melambatnya pertumbuhan dari sektor ini. Kinerja sub lapangan usaha perikanan, tercermin dari produksi udang yang menurun.
“Hal ini terkonfirmasi dari nilai ekspor luar negeri untuk komoditas udang pada triwulan I 2018 tercatat hanya USD21,5 Juta. Angka ini turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai USD25,5 Juta,” terang Usdiansyah kepada Koran Kaltara.
Adapun melihat data yang ia dapatkan dari Bank Indonesia (BI), penurunan nilai ekspor udang dipengaruhi oleh berkurangnya bibit udang yang berkualitas. Selain itu juga dipengaruhi faktor menurunnya permintaan dari negara mitra dagang, karena masa low season di awal tahun.
“Data ini terkonfirmasi dari hasil liaison yang dilakukan Bank Indonesia Kaltara dengan pelaku usaha kelompok perikanan untuk produk tambak udang di Kaltara,” ulasnya.
Beralih ke sub sektor perkebunan, terutama pada komoditas kelapa sawit yang turut mengalami perlambatan. Dijelaskan Usdiansyah berasal dari penurunan harga kelapa sawit. Berdasarkan data yang ia dapat, saat ini harga Tandan Buah Segar (TBS) tercatat beralih dari Rp1.655,26/Kg menjadi Rp1.530,22/Kg.
“Secara pertumbuhan, rata-rata harga TBS mengalami penurunan dari triwulan dan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Lebih jauh, melambatnya harga TBS dipengaruhi kebijakan pelarangan impor produk olahan kelapa sawit oleh negara Eropa. Menurutnya, ini berkaitan isu lingkungan dan kenaikan tarif impor di India. Selain itu, berdasarkan hasil liaison dengan asosiasi perusahaan kelapa sawit di Kaltara, diketahui bawa pada triwulan I 2018 terjadi masa low crop yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi.
“Karena faktor ini, masa tanam kelapa sawit menjadi lebih lama dan juga kegiatan distribusi terkendala,” lanjutnya.
Mengenai kondisi di triwulan II yang berakhir bulan ini, ia menjelaskan bahwa lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan diperkirakan akan mengalami peningkatan. Dari subsektor perikanan, kenaikan produksi udang dipengaruhi oleh membaiknya kualitas bibit udang dan kenaikan permintaan pasca berakhirnya masa low season.
Kemudian dari subsektor perkebunan, menurutnya dipengaruhi beroperasinya pabrik baru pengolahan kelapa sawit di Nunukan pada awal triwulan II 2018. Keberadaan pabrik tersebut, diperkirakan akan dapat mendorong kenaikan produksi sawit. Selain itu, semakin membaiknya ketersediaan sarana produksi dapat mendukung adanya pertumbuhan produksi sawit.
“Pertumbuhan juga dikarenakan harga TBS periode April 2018 yang tercatat sebesar Rp1.565,26/Kg, lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya,” tutup Usdiansyah.



Lazada Indonesia