Home » Nasional » Luhut: Yang Bilang Utang Kita Banyak, Datang ke Saya

Luhut: Yang Bilang Utang Kita Banyak, Datang ke Saya

Luhut: Yang Bilang Utang  Kita Banyak, Datang ke Saya
Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan memberi sambutan dalam Gala Dinner Voyage to Indonesia 2018, di hadapan sejumlah pebisnis, anggota parlemen, dan pejabat pemerintahan Amerika Serikat di Washington DC, 11 Oktober 2017 lalu. (Foto: ist/ net)

JAKARTA - Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pertumbuhan utang pemerintah saat ini lebih rendah dibanding sebelum-sebelumnya. Dia bilang, penarikan utang saat ini lebih banyak dipakai untuk pembangunan, bukan sesuatu yang tak produktif.
Hal itu dia sampaikan saat berbicara dalam acara Sarasehan bertopik “Poros Maritim Dunia Sebagai Bagian Pendekatan Kesejahteraan dalam Kerangka NKRI” di JS Luwansa, Jakarta.
“Orang pikir kita utang, utang dari mana. Utang itu sekarang turun di proyek, tidak di G2G (government to government) lagi. Itu terjadi perubahan. Nah orang bilang utang. Ini utang kita rendah,” katanya, Rabu (11/7).
Luhut sendiri menerima dengan terbuka jika ada yang mengkritik soal utang pemerintah. Menurutnya, pengelolaan utang yang dilakukan pemerintah saat ini sudah baik.
“Orang ribut (soal utang), makanya saya suka ngomong dimana mana, ‘eh yang bilang utang kita banyak itu datang ke saya’,” sebutnya.
“Kalau saya salah, saya cium kaki kau. Tapi kalau kau salah, kau cium kaki saya. Nggak ada yang datang, nggak ada yang berani,” tambahnya.
Diketahui, sebelumnya ada beberapa tokoh nasional yang pernah mengkritik soal utang. Di antaranya ekonom senior Rizal Ramli, Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, hingga Anggota DPR seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah.
Prabowo mengutip data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan menyebut bahwa utang RI sampai hari ini hampir Rp 9.000 triliun. Untuk memperkuat pernyataannya dia juga menampilkan berita media asing yang mengutip lembaga pemeringkat global tentang kondisi keuangan Indonesia.
Sementara itu, Rizal Rami mengungkapkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia kurang sehat karena persoalan utang. Pria akrab disapa RR tersebut mengatakan, pemerintah selalu membandingkan rasio utang Indonesia lebih baik dengan negara lain seperti Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Padahal, kata dia, perbandingan tersebut tak sesuai.
“Mereka (pemerintah) menggunakan data yang selektif, data yang, mohon maaf, ngawur. Come on, Amerika itu satu-satunya negara yang bisa cetak uang dolar dijual di luar negeri, di beli di luar negeri,” kata RR di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (3/7).
“Indonesia utang per GDP (Gross Domestik Bruto) lebih rendah dari Jepang. Come on, lihat dong di statistik Jepang, 80% utangnya itu sumbernya domestik, dari rakyat dan dari perusahaan dalam negeri, sehingga kalau ada gejolak internasional tidak terlalu terganggu,” sambungnya.
Menurutnya, indikator yang seharusnya digunakan ialah dengan menghitung cicilan utang dibanding nilai ekspor. Sedangkan, kata RR, nilai ekspor kita sedang terjungkal belakangan ini.
Namun, pemerintah selalu mengklaim bahwa kebijakan yang diambil dilakukan secara prudent atau hati-hati untuk mengatasi masalah ini.
“Ini ada menteri keuangan yang selalu ngomong bolak balik, kami prudent, kami prudent. I’m sorry you’re not prudent,” katanya.
Selain itu, dari sisi neraca perdagangan, Indonesia mengalami defisit dalam beberapa bulan terakhir.
“Ini sebetulnya sudah setengah merah. Kami sopan saja, hati-hati untuk bilang prudent. Ini sudah setengah merah, dan ini sudah kami bilang akhir tahun lalu. Dan ini sama sekali tidak prudent, kalau ada menteri yang bilang prudent-prudent, apanya yang prudent. Kalau prudent ini angkanya positif, bukan negatif,” jelasnya.



Lazada Indonesia