Home » Utama » Meski Hujan Deras, Debit Embung Persemaian Masih Menipis

Meski Hujan Deras, Debit Embung Persemaian Masih Menipis

Meski Hujan Deras, Debit Embung  Persemaian Masih Menipis
Kondisi embung Persemaian pada Rabu pagi

TARAKAN – Meskipun pada Selasa malam Kota Tarakan diguyur hujan dengan intensitas cukup tinggi, namun intensitas hujan belum berdampak pada naiknya level debet air di embung yang selama ini menjadi suplai kebutuhan air baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Berdasarkan pantauan Koran Kaltara di embung persemaian pada Rabu pagi (11/7), kondisi debet air sudah sangat menipis, bahkan di beberapa bagian dasar embung sudah terlihat seperti lapangan bola. Kondisi air yang surut, dimanfaatkan sejumlah warga untuk memancing dengan harapan ikan yang terkonsentrasi pada kubangan dapat memakan umpan.
“Cari ikan, lumayan airnya sedikit jadi banyak ikan yang kita dapat,” kata Syamsul, salah satu warga Karang Harapan yang memancing di embung persemaian.
Sementara itu, Direktur Utama PDAM Tarakan Said Usman Assegaf mengatakan bahwa hujan deras yang terjadi pada Selasa malam pukul 23.55 hingga sekitar pukul 03.00 Wita tidak sampai memenuhi debet embung baik Binalatung maupun Persemaian.
“Sehari sebelumnya, saya kumpulkan staf untuk berdoa minta hujan, karena tidak ada daya selain dari bantuan Allah SWT. Jika kemarin saya mengatakan akan terjadi pemadaman bergilir kepada 25 ribu pelanggan, mungkin bisa diperpanjang karena ada tambahan debet air di embung meskipun tidak secara signifikan,” bebernya.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Bumi Paguntaka, PDAM berencana mengambil air baku dari embung Bengawan yang selama ini belum berfungsi. Tetapi perusahaan Tirta Alam ini harus menempatkan genset untuk menghidupkan pompa air guna mengalirkan air baku dari embung Bengawan ke Instalasi Pengelohan Air (IPA) Persemaian.
Sedangkan untuk beli BBM non subsidi butuh biaya besar. Setidaknya Rp113 juta untuk satu pekan khusus di embung bengawan. Inilah salah stau alasan PDAM yang belum memanfaatkan mebung bengawan.
“Biayanya tinggi, kita baru mengusulkan pemasangan listrik disana. Semoga saja cepat terealisasi, supaya bisa diungsikan,” ucapnya.
Mnurutnyam, embung menjadi satu-satunya solusi untuk saat ini, pasalnya jika harus mengebor air tanah dibutuhkan koordinasi lintas kementerian, mulai dari Kementerian Kesehatan untuk kualitas air, Kementerian Kehutanan untuk lokasi, Kementerian PUPR untuk pengelolaan air baku, Kementerian Keuangan untuk anggaran dan amsih ada beberapa Kementerian lainya.
“Sedangkan kalau kita mengambil air baku dari daratan pulau Kalimantan membutuhkan anggaran yang cukup besar, dan pengajuan yang dilakukan belum ada persetujuan. Jadi untuk sementara kita hanya mengandalkan air hujan,” pungkasya. 



Lazada Indonesia