Home » Utama » Musim Hujan, Waspada Longsor

Musim Hujan, Waspada Longsor

TANA TIDUNG- Hujan yang mengguyur kawasan Kabupaten Tana Tidung (KTT) selama beberapa hari terakhir tentu perlu diwaspadai, mengingat kawasan pegunungan sangat rawan terjadinya longsor.
Menurut Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) KTT, Asnar, bahwa untuk pemukiman yang berada di kawasan pegunungan maupun perbukitan dimusim penghujan akan sangat mudah terjadinya bencana longsor.
“Memang dikhawatirkan adanya bencana longsor pada kawasan pegunungan terutama saat musim hujan seperti ini, makanya kita imbau warga yang sudah terlanjur membangun di kawasan rawan longsor untuk tetap waspada dan lebih berhati-hati agar tidak adanya korban jiwa yang timbul akibat keteledoran kita,” imbaunya.
Kendati tanah di KTT terbilang sangat kuat dan jarang terjadinya longsor akan tetapi ia selalu mengingatkan untuk terus mewaspadai bencana yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi, apalagi pembangunan di KTT sudah semakin berkembang baik pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah maupun yang dilakukan oleh warganya maka tak heran ada saja warga yang masih membangun di kawasan pegunungan walaupun mengetahui dengan pasti ada bahaya mengancam disana.
“Seperti yang kita ketahui ada saja kawasan yang rawan longsor, bahkan saat musim penghujan seperti sekarang ini pegunungan rawan longsor di sekitar jalan menuju pedesaan di Kecamatan Betayau dan sekitarnya, meski perlu kita syukuri tidak ada pemukiman disana, hanya saja longsor biasa menutup jalan,” tambahnya.
Diakui kawasan pegunungan merupakan kawasan lahan yang harganya cukup murah sehingga banyak saja warga yang membangun, sementara untuk harga sewaan atau kontrakan terbilang cukup mahal membuat warga lebih memilih membangun di tanah yang tidak terlalu memakan biaya besar supaya dapat membantu mereka untuk tidak lagi menyewa atau mengontrak rumah.
Seperti yang dikatakan oleh salah satu warga, Rahman yang menyebut bahwa ia sudah menempati perumahan yang ia bangun dengan dana minim di kawasan pegunungan karena ia yang merupakan orang dari luar daerah (Pulau Sulawesi) tidak sanggup bila terus menerus harus membayar uang sewa sehingga dengan berbekal uang yang cukup ia pun nekat membangun rumah seadanya.
“Daripada mengontrak jadi lebih baik mencari tanah yang digunung dijual orang dengan harga murah dan sisa uang yang ada pelan-pelan dibangun supaya kami dapat berteduh dengan nyaman,” tukasnya.
Kata dia, harga tanah yang ia beli ukuran 10 kali 15 meter persegi hanya Rp 7 juta saja, harga ini tentu saja berbeda dengan harga tanah yang dipinggir jalan dan kawasan rata mencapai puluhan juta bahkan nyaris ratusan juta rupiah, ia nekat membeli lantaran sudah tidak sanggup lagi membayar uang sewa terus menerus.
“Kalau menyewa sebentar saja sudah harus bayar, sama sekali tidak terasa sudah waktunya membayar tapi kalau membangun rumah walaupun seadanya setidaknya ada tempat berteduh dan tidak perlu lagi memikirkan sewa, tapi sudah berjalan hampir 7 bulan ini kami tinggal belum pernah hujan sampai kejadian longsor dirumah kami, semoga tidak akan pernah terjadi,” harapnya. 



Lazada Indonesia