Home » Worldsport » When Football’s Going Home

When Football’s Going Home

When Football’s Going Home
daily mail TAK BERDAYA Pelatih Inggris Gareth Southgate menenangkan pemainnya, Harry Maguire, yang sedih dan kecewa setelah gagal ke final.

INGGRIS sempat bereuforia dengan kemenangan demi kemenangan yang mereka dapatkan sejak fase kualifikasi Piala Dunia 2018 hingga tampil di semifinal Kamis (12/7) dinihari kemarin. Slogan Football Is Coming Home! pun menandai ambisi besar mengembalikan trofi juara dunia ke tanah Britania Raya.
Namun apa boleh buat, asa itu terkubur bersama kekalahan 1-2 Inggris dari Kroasia dinihari kemarin pada fase semifinal Piala Dunia 2018. Sepakbola Pulang ke Rumah pun berganti jadi Football Is Going Home alias Sepakbola Pergi dari Rumah, sindiran untuk kegagalan The Three Lions yang tak jangankan juara, bahkan menembus final pun tak mampu.
Sebagai negara yang mengaku pencipta sepak bola, Inggris malah miskin prestasi. Satu-satunya gelar yang bisa diraih adalah trofi Jules Rimet 1966. Sejak itulah trofi bergengsi empat tahunan tak pernah kembali pulang ke tanah Britania.
Kekalahan membuktikan kekuatan Inggris belum stabil saat menghadapi tim mapan. Lini depan mereka juga tampil kurang menggigit. Harry Kane lebih memilih bermain aman ketimbang melakukan tusukan cepat ketika memegang bola di daerah sepertiga pertahanan Kroasia. “Ini sangat berat. Kami sangat terpukul. Kami bekerja keras. Suporter sungguh luar biasa. Pertandingan sangat berat, peluangnya 50-50. Saya yakin kami seharusnya bisa bermain lebih baik, tapi tim sudah bekerja keras,” ujar Kane dikutip dari Guardian.
Sementara itu manajer timnas Inggris Gareth Southgate tetap bangga meski negaranya terjungkal. “Suporter terus mendukung hingga akhir. Hal itu menandakan kalau para pemain sudah memberi segalanya. Saya tak bisa menuntut lebih banyak,” ucap Southgate.
Sementara pelatih Kroasia Zlatko Dalic memuji kekuatan mental anak asuhnya. “Semua pemain menunjukkan kekuatan, stamina, dan energi mereka pada pertandingan ini,” kata Dalic. “Saya sebenarnya mencoba melakukan pergantian pemain. Namun, akhirnya tidak ada pergantian (pada waktu normal) karena mereka selalu mengatakan siap dan mau terus berlari,” ungkapnya.
Pernyataan Dalic memang benar. Kroasia menunjukkan bagaimana mereka enggan menyerah saat tertinggal satu gol. Per Whoscored, 8 dari 27 usaha tekel yang mereka lepaskan bahkan terjadi di daerah permainan Inggris. 



Lazada Indonesia