Home » Utama » Warga Mulai Rasakan Dampak Minimnya Air Baku

Warga Mulai Rasakan Dampak Minimnya Air Baku

TARAKAN – Krisis air mulai dirasakan sebagian warga kota Tarakan, terutama yang selama ini terlayani Instalasi Pengolahan Air (IPA) Kampung Satu. Minimnya air baku yang dapat dioleh membuat kapasitas produksi menurun, jika selama ini IPA Kampung Satu memiliki kapasitas 150 liter perdetik, sekarang tinggal 70 liter perdetik, sehingga distribusi kepelanggan menjadi terganggu.
Selain warga yang tinggal di Kampung Satu, pelanggan yang berdomisili di Kelurahan Pamusian, Kampung Enam, Kampung Empat, dan Gunung Lingkas mulai merasakan dampak dari krisis air bersih. Bahkan untuk mencukupi kebutuhan terpaksa membeli air bersih keliling dengan harga antara Rp60-90 ribu per profil tank kapasitas 1000 liter.
Seperti yang dialami Wardoyo, warga RT 11 Kelurahan Pamusian yang dalam beberapa hari terakhir air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tidak mengalir, sehingga dirinya harus membeli air bersih keliling.
“Sudah sekitar dua hari ini tidak mengalir. Air tadah hujan juga habis terpaksa pagi ini beli air keliling, kalau di daerah sini harganya Rp70 ribu per profil tank. Tentu saja pengeluaran ditambah, kalau PDAM saja paling satu bulan Rp150 ribu, ini baru sekali beli saja sudah Rp70 ribu tentu saja lebih mahal,” terangnya, Kamis (12/7).
Warga yang tinggal di Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) kena dampaknya, lebih parah lagi di sini tidak tempat tendon air sehingga warga tidak bisa beli air keliling, “Mau beli gak bisa, mau di taruh mana airnya. Kita hanya mengaharapkan dari PDAM saja, kalau beli air keliling tidak ada tempat untuk menampung karena air dikelola oleh Unit Pelayanan Teknis (UPT),” kata salah satu penghuni Rusunawa, Bacok.
Diakui Direktur Utama PDAM Tarakan, Said Usman Assegaf, bahwa saat ini produksi IPA Kampung Satu mengalami penurunan kapasitas produksi, untuk bahan baku yang berasal dari embung Binalatung juga sedang menipis.
“Kalau cadangan air dari embung Binalatung masih ada tetapi kapasitasnya juga menipis, jadi kapasitas produksi IPA Kampung Satu juga turun. Sekarang hanya sekitar 70 liter perdetik, pedahal kalau normal bisa mencapai 150 literperdetik. Kenapa ada yang tidak sampai kepelanggan, karena di dalam pipa ada juga gelembung-gelembung angin sehingga tidak sepenuhnya terisi air,” ungkapnya.
Selain sebagian Kecamatan Tarakan Timur, warga yang tinggal di Karang rejo, Karang Balik, dan Selumit juga akan merasakan dampaknya, jika dalam tiga hari bertururt-turut tidak ada hujan. Dan untuk mengembalikan cadangan air baku di beberapa empung setidaknya harus ada hujan deras selama tiga.
“Produksi turun, sehingga pipa dimasuki gelembung udara, ini yang membuat distribusi terhambat. Mari sama-sama berdoa semoga hujan kembali mengguyur Tarakan dan cadangan air baku di embung kembali normal,” pungkas Usman. 



Lazada Indonesia