Home » Utama » Penyebaran Garam dan Beras Masih ke Malaysia

Penyebaran Garam dan Beras Masih ke Malaysia

Penyebaran Garam dan Beras  Masih ke Malaysia
HASIL PRODUKSI : Garam Gunung Krayan yang dimiliki masyarakat Krayan.

MALINAU – Meski garam gunung produk warga Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan, Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara telah dikemas sedemikian rupa, namun untuk penyebaran garam gunung tersebut belum mampu menembus ke pasar Indonesia.
Hal itu diungkapkan salah seorang pelaku UKM Krayan, Nengsih Ramba saat ditemui Koran Kaltara di stand Pameran Festival Aco Lundayeh, Desa Pulau Sapi, Kecamatan Mentarang, Kabupaten Malinau, Kamis (12/7).
Saat ini, kata dia, hasil alam di Krayan, yakni garam gunung lebih banyak di distribusikan ke Negara tetangga, Malaysia. Sebab, dari segi ongkos transportasi terbilang cukup murah dibandingkan ke Indonesia.
“Rata-rata masyarakat krayan menjualnya ke Malaysia. Karena masih murah untuk ongkos angkutnya. Kalau ke Tarakan, Malinau cukup tinggi ongkos pengirimannya,” ujarnya.
Menurut dia, untuk per gram saja ketika dipasarkan ke Indonesia harga garam gunung bisa mencapai Rp60-Rp80 ribu. Sedangkan ke Malaysia per gramnya hanya berkisar Rp40 ribu.
“Karena itu tadi, ongkos pengiriman yang lebih besar. Untuk perkilo saja naik ke pesawat bisa capai Rp25–Rp33 ribu perkilonya. Dibandingkan ke Malaysia yang aksesnya hanya lewat darat hanya Rp10 ribu saja,” ungkapnya.
Sebenarnya kata dia, masyarakat setempat mampu menghasilkan produksi garam gunung dalam perharinya itu 100 kilogram. Tetapi, untuk akses pendistribusian saja yang masih kendala.
“Rata-rata setiap pelaku produksi garam gunung ini menghasilkan 100 kg. Tapi yaitu, hanya bisa menumpuk di Krayan saja,” katanya.
Begitu pula dengan beras adan yang dimiliki setiap petani di Krayan, diakuinya, puluhan ton masih tetap berada di wilayahnya. “Mau dijual kemana mas, paling hanya di jual ke Malaysia,” ujarnya.
Sedangkan ke Indonesia, kata Nengsih, masyarakat tidak berani membawa dalam jumlah yang banyak. Dikarenakan ongkos transportasi yang cukup tinggi jika menggunakan transportasi udara yang reguler. “Kalau dibawah dengan jalur reguler tentu standar harga yang dijual ke masyarakat tetap tinggi,” tuturnya. 



Lazada Indonesia