Home » Akademika » Lembaga Pendidikan Harus Zero Kekerasan

Lembaga Pendidikan Harus Zero Kekerasan

Lembaga Pendidikan Harus Zero Kekerasan
KPAI saat menggelar konferensi pers.

JAKARTA - Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti mengatakan bahwa KPAI akan menggelar rapat koordinasi untuk membahas dugaan kekerasan dan adanya ruangan yang seperti sel tahanan, di salah satu SMK swasta di Batam.
“Ini tindaklanjut penanganan kasus dugaan kekerasan dan pendidikan semi militer di salah satu SMK di Batam,” kata Retno di Jakarta, Jumat (14/9).
Retno mengatakan, KPAI sudah mengirimkan surat kepada Gubenur Kepulauan Riau (KEPRI) untuk difasilitasi rapat koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait seperti Dinas Pendidikan, Dinas PPA/P2TP2A, dan Inspektorat Provinsi Kepulauan Riau, ditambah Kapolda KEPRI.
“KPAI juga mengundang langsung Kompolnas dan Kemdikbud RI untuk turut hadir dalam rapat koordinasi,” katanya.
Retno menyebut sebagaimana keterangan dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi KEPRI di beberapa media, ada beberapa SMK penerbangan di Batam yang diduga juga menerapkan pendidikan semi militer dan masih menerapkan hukuman fisik.
“Lembaga pendidikan seharusnya zero kekerasan dan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi peserta didik,” katanya.
Retno mengatakan, rencana rapat koordinasi akan dilaksanakan pada Senin, 17 September 2018 di Kantor Gubenur KEPRI. Selanjutnya, KPAI dan Kompolnas akan menuju Batam untuk melakukan pengawasan langsung ke sekolah dan Polres Barelang.
“KPAI berharap pihak Kemdikbud juga ikut pengawasan ke Batam mengingat persoalan utama dalam kasus ini, adalah semangat untuk melakukan pembenahan system pendidikan yang lebih ramah anak di Batam,” katanya.
Sebelumnya KPAI menyebut seorang anak sekolah, RS berusia 17 tahun mengalami trauma berat setelah ditahan di salah satu sel sekolah menengah kejuruan di Batam, Kepulauan Riau.
RS mengalami tekanan psikologis karena mengalami kekerasan fisik dan perundungan lewat dunia maya. Anak tersebut membutuhkan rehabilitasi medis maupun psikis.
RS mengalami kekerasan fisik karena disuruh berjalan jongkok di pekarangan sekolah yang beraspal dalam kondisi tangan masih diborgol, disaksikan oleh teman-temannya. Ironisnya, kejadian itu didokumentasikan.
“RS di sel tahanan sekolah selama dua hari dalam keadaan tangan diborgol dan menerima tindakan kekerasan dari pembina sekolah berinisial ED,” kata Retno.
KPAI telah melayangkan surat ke kepolisian setempat untuk mengusut kasus tersebut dan mendorong Dinas Pendidikan dan Inspektorat Provinsi Kepulauan Riau menyelidiki sekolah tersebut.



Lazada Indonesia