Home » Nasional » BNPB: 5.000 Orang Belum Ditemukan

BNPB: 5.000 Orang Belum Ditemukan

BNPB: 5.000 Orang Belum Ditemukan
Tentara dan tim penyelamat mengumpulkan korban tewas akibat gempa di Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Sabtu (6/10). Sebanyak 82 orang korban meninggal dunia akibat tanah yang amblas di wilayah itu. (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kepala Pusat Data Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut pihaknya menerima laporan sekitar 5.000 orang belum ditemukan pascagempa dan tsunami di Palu dan Donggala.
“Laporan dari kepala desa, terdapat 5.000 orang yang belum ditemukan,” ujar Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Minggu (7/10).
Sutopo memastikan petugas penanggulangan bencana masih akan terus melakukan pencarian terhadap para korban.
“Petugas masih terus melakukan konfirmasi, pendataan, memang tidak mudah untuk mendata berapa pasti korban yang tertimbun oleh material longsoran maupun likuifaksi lumpur, dan evakuasi terus dilakukan,” kata dia.
Menurut Sutopo, pihaknya akan menghentikan status tanggap darurat Palu-Donggala pada 11 Oktober 2018. Jika sudah tak ditemukan korban pada tanggal tersebut, maka akan dinyatakan hilang.
“Ditargetkan tanggal 11 Oktober evakuasi selesai dilakukan. Sehingga jika tidak ditemukan, biasanya dalam penanganan bencana, kalau korban tidak ditemukan, apalagi tanggal 11 itu sudah dua minggu, sehingga dalam hal ini dinyatakan hilang,” kata dia.
Sementara itu, BNPB mencatat sebanyak 1.763 korban jiwa yang terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah berdasarkan pembaruan data korban hingga Minggu, pukul 13.00 WIB.
“Dari 1.763 orang yang meninggal dunia, sebanyak 1.755 jenazah telah dimakamkan,” kata Sutopo.
“Sampai hari ini (kemarin, Red.) pukul 13.00 WIB jumlah korban jiwa terus bertambah karena memang tim SAR (pencarian dan penyelamatan) gabungan yang dikoordinir oleh Basarnas terdiri dari TNI, Polri, Kementerian ESDM, sukarelawan, bahkan masyarakat juga terus melakukan pencarian korban sehingga tercatat 1.763 orang meninggal dunia,” katanya.
Dari 1.763 orang meninggal itu, satu di antaranya adalah warga negara Korea Selatan dan dimakamkan oleh pihak keluarga.
Total korban jiwa itu terdiri atas 159 orang di Donggala, 1.519 orang di Kota Palu, 69 orang di Sigi, 15 orang di Paragi Moutong, dan satu orang di Pasangkayu, Sulbar.
Dari 1.519 korban meninggal di Kota Palu, sebagian besar orang meninggal diterjang tsunami. “Kota Palu memang paling banyak, dan korban paling banyak adalah disebabkan tsunami untuk di Kota Palu,” katanya.
Dia mengemukakan bahwa masih banyak korban di Kabupaten Sigi diperkirakan tertimbun dan belum ditemukan sampai saat ini.
Sutopo menjelaskan dari total 1.755 korban yang telah dimakamkan, sebanyak 753 jenazah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Paboya dengan pemakaman secara massal. Kemudian, 35 dimakamkan secara massal di TPU Pantoloan.
Selanjutnya, pemakaman oleh pihak keluarga dilakukan bagi 923 jenazah. Selain itu, sebanyak 35 jenazah dimakamkan di Donggala, 8 jenazah di Biromaru, dan satu jenazah di Pasangkayu.
Selain korban meninggal, terdapat juga korban yang mengalami luka berat yakni sebanyak 2.632 orang dan sedang menerima perawatan di rumah sakit.
Pada Jumat (28/9) pukul 18.02.44 WITA, gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) mengguncang Donggala dan sebagian dari wilayah Sulawesi Tengah.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami pascagempa tersebut dan terpantau terjadi tsunami di Mamuju setinggi enam centimeter dan pantai Palu dengan ketinggian 1,5 meter.



Lazada Indonesia