Home » Utama » Harga di APMS Turun, di Pengecer Bertahan

Harga di APMS Turun, di Pengecer Bertahan

TANA TIDUNG- Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium di sejumlah Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS) baik di APMS Trans Kujau di Kecamatan Betayau maupun di APMS Sebidai, Kecamatan Sesayap dengan harga jual sekitar Rp 6.450 perliternya berbeda sebelumnya dibanderol dengan harga Rp 7.500.
Akan tetapi yang menjadi pertanyaan masyarakat Kabupaten Tana Tidung (KTT) mengapa harga jual di pengecer belum dapat ditekan, sebab sekarang ini harganya masih Rp 10 ribu perbotolnya yang diduga takarannya tidak mencapai satu liter.
“Sebelumnya ada yang menjual Rp 9 ribu dan sampai sekarang masih bertahan Rp 9 ribu tapi itu hanya dua pengecer saja, satunya di kawasan Jalan Tanah Abang yang tak jauh dari Jalan Kebun Sayur, dan pengecer kedua di Jalan Jenderal Sudirman tidak jauh dari salah satu penginapan di Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap dan sisanya seluruh pengecer menjual dengan harga Rp 10 ribu ada yang bagus takarannya penuh satu botol tapi tak sedikit yang menjual dengan takaran botol yang tidak penuh sama sekali,” ujar Rahman, salah satu warga Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap pada Minggu (7/10) kemarin.
Ia menyebut pasokan premium pun sudah semakin mudah saja sebab dapat diperoleh di APMS, pangkalan maupun pengecer yang siap sedia menjual selama seharian penuh terutama dalam bulan ini, namun yang kerap menjadi pertanyaan masyarakat mengapa pengecer bisa menjual dengan harga tinggi sedangkan mereka sendiri diduga mendapatkan pasokan langsung dari APMS juga.
“Kalau mengisi di pengecer dua botol hanya bertahan tidak sampai dua hari untuk kendaraan roda dua padahal hanya digunakan seputaran Desa Tideng Pale saja, kalau sampai jalan ke desa-desa di Kecamatan Sesayap Hilir harus mengisi penuh jika tidak mau mogok dijalan karena kehabisan bensin (premium, Red), kami sangat berharap pengecer bisa menurunkan harga jual yang cukup berbanding jauh dengan harga di APMS,” ungkapnya.
Terkait hal ini, salah satu pengecer, Heri mengatakan bahwa ia sendiri sebagai pengecer menerima bensin dengan harga Rp 7500 perliter dari pemasok tanpa mau merinci pemasok bensin darimana ia peroleh, ditambah lagi pembelian 200 liter yang ditakar dengan satu drum plastik tersebut tidak mencapai takaran 200 liter bahkan terkadang 195 liter atau cuma 190 liter saja sementara mereka harus membayar penuh 200 liter, pengecer sendiri merasa dicurangi dengan pemasok akan tetapi untuk mencukupi takaran yang telah hilang itulah membuata pengecer harus pandai mengatur penjualan kendati acapkali mendengar keluhan masyarakat dengan takaran pengecer.
“Mau bagaimana lagi, kami sendiri membelinya dengan harga Rp 7500 perliter, bukan dengan harga yang berlaku di APMS (Rp 6.450) dan seringkali kami hanya menerima kurang dari 200 liter, kadang 195 liter dan parahnya sampai 190 liter, nah kekurangan literan itulah yang menyebabkan kami harus menakar sesuai dengan apa yang sudah menjadi biaya pembelian bensin kami di pemasok, keuntungan juga tidak seberapa, belum lagi jika menghadapi orang yang suka berhutang, mana susah bayar lagi,” kata dia. 



Lazada Indonesia