Home » Nasional » Masa Tanggap Darurat Kemungkinan Diperpanjang

Masa Tanggap Darurat Kemungkinan Diperpanjang

Masa Tanggap  Darurat Kemungkinan Diperpanjang
Polisi mengamankan aktivitas bongkar muat bantuan makanan untuk korban gempa dan tsunami palu serta Donggala Di Pelabuhan Kelas-III Pantoloan, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (01/10). Pelabuhan Pantoloan mulai difungsikan kembali untuk mengangkut pengungsi dan distribusi bantuan bencana. (Foto: Ist/ net)

JAKARTA - Masa tanggap darurat bencana di Sulawesi Tengah (Sulteng) kemungkinan akan diperpanjang. “Masa tanggap darurat bencana akan dibahas Rabu (10/10) apakah diperpanjang atau tidak. Namun, melihat medan yang ada, kemungkinan akan diperpanjang 14 hari,” kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers terkait gempa, tsunami dan likuifaksi Sulawesi Tengah di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (9/10).
Khusus untuk pencarian dan pertolongan korban, Sutopo mengatakan, akan dihentikan pada Kamis (11/10). Hal itu sesuai dengan prosedur standar operasional pencarian dan pertolongan yang dilakukan selama tujuh hari dengan masa tambahan tiga hari.
“Hingga Kamis (11/10), pencarian dan pertolongan korban sudah dilakukan selama 14 hari,” katanya.
Berdasarkan rapat koordinasi yang dipimpin Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola terkait evakuasi korban tertimpun di Balaroa, Petobo dan Jono Oge, pencarian dan pertolongan korban dinilai sudah tidak memungkinkan.
Dari korban terakhir yang telah dievakuasi, kondisinya sudah melepuh, tidak dikenali dan harus segera dimakamkan karena jenazahnya kemungkinan membawa kuman yang bisa menyebarkan penyakit.
“Karena itu, pencarian dan pertolongan korban akan dihentikan pada Kamis (11/10), tetapi masa tanggap darurat untuk melayani kebutuhan pengungsi kemungkinan akan diperpanjang 14 hari,” kata Sutopo.
Sementara itu, hingga H+11 pascabencana, Tim SAR Gabungan sudah menemukan sebanyak 2.010 korban teridentifikasi meninggal dunia. Jumlah tersebut berasal dari beberapa lokasi seperti di Donggala, Palu, Sigi dan Moutoung.
“2.010 korban meninggal dunia. Perinciannya 171 di Donggala, 1.601 di Palu, 222 di Sigi, 15 di Moutoung dan 1 orang di Pasang Kayu,” kata Sutopo.
Sutopo menjelaskan, kebanyakan korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa dan tsunami. Sebanyak 2.010 jenazah yang teridentifikasi itu telah dimakamkan secara massal.
“Pemakaman massal sebanyak 934 orang, pemakaman keluarga 1.075 orang,” jelasnya.
Selain itu, BNPB juga menerima laporan sebanyak 2.549 orang mengalami luka berat dan masih menjalani perawatan secara intensif di rumah sakit.
“Sebanyak 2.549 orang luka berat yang dirawat di rumah sakit, dan 8.130 orang luka ringan,” ujarnya.
Sampai saat ini, Tim SAR Gabungan masih terus bekerja dan melakukan pencarian terhadap para korban meninggal dunia. Dia berharap agar pencarian terhadap para korban bencana gempa dan tsunami bisa dapat segera ditemukan. 



Lazada Indonesia