Home » Headline » Beban Ketergantungan Hidup di Atas Rerata Nasional

Beban Ketergantungan Hidup di Atas Rerata Nasional

TANJUNG SELOR – Beban Ketergantungan Hidup, adalah perbandingan jumlah penduduk usia produktif (15 tahun – 64 tahun) dengan jumlah penduduk usia non produktif (0 – 14 tahun dan 65 tahun ke atas). Skor yang tercatat dalam angka Beban Ketergantungan Hidup, dapat digunakan sebagai indikator dalam menunjukkan keadaan ekonomi dalam keadaan maju atau berkembang.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, indeks ini merupakan salah satu indikator demografi yang penting. Semakin tingginya persentase ketergantungan hidup, menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk produktif untuk membiayai hidup penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi. Sedangkan jika persentase semakin rendah, menunjukkan semakin rendah pula beban yang ditanggung penduduk produktif untuk membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak produktif lagi.
Berbicara soal ketergantungan hidup di Kalimantan Utara (Kaltara), pemerintah masih harus bekerja keras agar capaian bisa tergolong ideal atau setara dengan capaian nasional. Untuk saat ini, capaian yang ditorehkan Kaltara adalah sebesar 50,47 (Data BPS Kaltim tahun 2017). Ini menunjukkan, setiap 100 usia produktif, harus menanggung kebutuhan ekonomi dari sekitar 50 orang usia non produktif. Angka ini untuk diketahui bersama, masih berada dalam kategori tinggi sekaligus di atas rerata nasional dengan capaian sebesar 49,32.
Dibandingkan tahun 2016, sudah ada penurunan sebesar 0,44 poin. Meski begitu, pemerintah daerah masih harus mengejar target penurunan jangka panjang yang dipatok hingga tahun 2035. Dimana untuk wilayah Kaltim – Kaltara, ditargetkan bisa mencapai angka 44,5 di tahun 2020, 43,7 di tahun 2025, 43,5 di tahun 2030 dan akhirnya di angka 43,1 di tahun 2035.
Berdasarkan catatan Koran Kaltara, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kalimantan Timur (Kaltim) menilai, Pemerintah daerah harus bersiap untuk mengahadapi angka ketergantungan hidup yang sangat tinggi di tahun 2040. Hal ini dikarenakan, terdapat potensi tren perkembangan demografi berdasarkan usia yang timpang antara usia produktif dan non produktif. Sehingga apabila tidak mendapat perhatian yang serius, dikhawatirkan menimbulkan persoalan yang bersentuhan langsung dengan kesejahteraan sosial. Baik meliputi kemiskinan, angka putus sekolah, ketimpangan sosial, kekurangan gizi dan lainnya.
Adapun apabila diitelaah lebih jauh berdasarkan kabupaten dan kota di Kaltara, Kabupaten Malinau menjadi daerah dengan Dependency Ratio tertinggi sebesar 53,72. Kemudian untuk peringkat ke dua yakni disusul oleh Kabupaten Nunukan dengan capaian 53,43. Adapun diperingkat ke tiga, ditempati Kabupaten Bulungan dengan nilai 51,69. Kemudian untuk ke empat di Kota Tarakan dengan nilai 46,93 dan Kabupaten Tana Tidung (KTT) sebesar 46,54 menjadi daerah dengan capaian Dependecy Ratio terendah.



Lazada Indonesia